"Kami tinggal di dalam bui. Kami patuhi semua hukum penjara. Jangan zalimi kami lagi," ujar PNS Dephub ini di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Senin (11/1/2009).
Darmawati yang berkata-kata sambil menangis dan emosional itu pun menambahkan bahwa dirinya mengapresiasi kinerja Satgas Antimafia Hukum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ini di sini mati, bukan fisiknya. Kami tidak bisa ke mana-mana. Coba kalian bayangkan kalau ibu atau kakak kalian. Tidak ada kita menambah fasilitas. Kita tidur seperti keong tidak mengeluh," tambahnya.
"Tapi mengapa Artalyta selnya mewah Bu?" tanya wartawan.
"Itu bukan wewenang saya untuk ini (menjawabnya)," jawab Darmawati
"Ada bayar-bayaran?" cecar wartawan lagi.
"Tidak ada," timpalnya.
Β
Darmawati bercerita didampingi oleh 4 napi lainnya yang mendapatkan fasilitas berbeda dengan yang napi pada umumnya. Mereka adalah Artalyta Suryani (Ayin), Aling (kasus narkoba), Ines Wulandari (kasus korupsi) dan Eri (kasus korupsi).Β
Mereka duduk berlima di sebuah bangku panjang di lapangan Rutan. Wartawan mengelilingi mereka untuk menanyakan soal fasilitas mewah yang mereka dapatkan. Namun dari 5 orang itu, hanya Darmawati yang bicara. Dia bicara dengan meluap-luap menyangkal semua kabar yang beredar. Sedangkan Artalyta hanya diam saja sembari menyembunyikan wajahnya di balik punggung napi lainnya.
Namun sayang tanya jawab ini hanya berlangsung singkat karena wartawan kemudian diajak berkeliling rutan guna menunjukkan sel-sel para napi. (nwk/nrl)











































