"Ya, dikurung agar jangan lari. Kalau lari, bisa repot kita. Dia dikurung di sebuah kamar yang isinya berkisar 8 anak," kata pengurus panti sosial milik Dinas Sosial dan Kesejahteraan Palembang, Fahri Fatoni, di kelurahan Sukamaju, Sako, Kenten, Minggu (10/01/2010).
Menurut Fahri, setiap anak yang baru diselamatkan dari jalan, biasanya dikurung dalam beberapa hari di sebuah ruangan. "Makan, minum, mandi, tetap diurus. Hanya mereka tidak boleh sampai keluar. Saat ini bocah lelaki itu bersama tujuh anak lainnya," kata Fahri.
Sampai saat ini, bocah yang bisu dan buta huruf itu belum diketahui identitasnya. "Kami harapkan kalau ada keluarga yang kehilangan anaknya yang kondisinya sama seperti dia, segera menemui kami," katanya.
Cerita Saksi Mata
Sementara itu, menurut saksi mata kejadian, Samsul (19)mengatakan sekitar pukul 03.00 ada seorang anak laki-laki yang memanjat tiang jembatan Ampera.
"Saya suruh turun, dia tidak mau turun, malah semakin naik ke tiang jembatan Ampera lewat pinggiran tangga jembatan. Saya langsung melapor ke Poltabes Palembang," kata Samsul.
Tak lama kemudian datang mobil polisi, mobil pemadam kebakaran dari pemerintah Palembang. Sempat terjadi kemacetan di atas jembatan Ampera karena mobil itu berada di atas badan jembatan tersebut. Orang-orang pun ramai naik ke atas jembatan Ampera dan meneriaki sang anak yang duduk di pinggir penyanggah kedua jembatan agar jangan melompat.
Akhirnya, setelah beberapa menit dirayu seorang petugas pemadam, sang anak pun berhasil dibawa turun sekitar pukul 05.15 WIB.
(tw/amd)











































