Dephub Dukung Proyek Kereta Supercepat

Dephub Dukung Proyek Kereta Supercepat

- detikNews
Kamis, 07 Jan 2010 17:28 WIB
Dephub Dukung Proyek Kereta Supercepat
Jakarta - Konsorsium 15 perusahaan asing berniat membangun kereta supercepat rute Cirebon-Bandung-Jakarta sejauh 357 km. Departemen Perhubungan menyambut baik dan mendukung megaproyek bernilai Rp 30 triliun itu meski tak terlibat langsung kecuali masalah teknis saja.

"Kita sambut baik inisiatif ini. Kita mendukung dan mendorong, jika dibutuhkan kita siap membantu," ujar Kapuskom Publik Dephub Bambang S Ervan kepada detikcom di Kantor Dephub, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (6/1/2009).

Bambang menjelaskan, UU Transportasi yang baru menyatakan bahwa peluang untuk berinvestasi di bidang transportasi di Indonesia terbuka luas, baik untuk pemerintah daerah maupun swasta asing.

"Domain Dephub hanya terkait teknis saja. Seperti studi kelayakan, jalur kereta dan desain dasarnya," imbuhnya.

Ketika ditanya seberapa penting kereta supercepat ini hadir di Indonesia, Bambang mengatakan, kereta ini memang diperlukan, utamanya bagi masyarakat yang punya kebutuhan tinggi terhadap penggunaan kereta.

"Kembali nanti di studi kelayakan apakah benar-benar diperlukan. Segala aspek akan dilihat, baik dari modal atau kompetitor," paparnya.

Seperti diberitakan, 15 perusahaan asing membentuk konsorsium dan menandatangani MoA proyek kereta api supercepat yang dinamai Hydrogen Hi-Speed Rail Super Highway (H2RSH) senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 30 triliun. Kereta supercepat ini akan mengalahkan kecepatan dan kecanggihan shinkansen, bullet train dari Jepang, maupun kereta supercepat di Paris, Prancis. MoA diteken di Los Angeles, disaksikan pejabat KJRI setempat.

Rencananya proyek ini akan memasuki fase studi kelayakan pada 11 Januari nanti dan memakan waktu 90 hari. Ditargetkan megaproyek ini akan selesai dalam waktu 2 tahun.

Moda transportasi modern ini akan beroperasi dan memberi keuntungan/keunggulan jika dibandingkan dengan moda generasi sebelumnya seperti shinkansen (bullet train dari Jepang). Keuntungan tersebut antara lain terkait biaya konstruksi yang lebih murah (US$ 10 juta/mil sedangkan moda konvensional sampai US$ 36 juta/mil), break event point diperkirakan hanya 2 tahun sedangkan moda konvensional sekitar 50 tahun, berbeda dengan moda konvensional yang hanya mengangkut orang moda transportasi baru tersebut juga dapat dipergunakan untuk mengangkut barang (freights dan automobiles)

H2RSH juga memberikan alternatif transportasi yang efektif mengingat dapat beroperasi pada kecepatan yang lebih cepat sehingga diperkirakan dapat menghemat waktu ke tempat tujuan. Selain itu, H2RSH memberikan kentungan ekonomis dikarenakan selain berfungsi sebagai moda transportasi dapat menghasilkan energi yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan energi daerah tertentu, seperti tenaga listrik, air bersih, dan lain-lain.
(gus/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads