Semua itu disebabkan oleh seorang penumpang pesawat bersikap mencurigakan. Penumpang tersebut adalah seroang pria berumur 56 tahun asal Salem, Oregon.
"Pada saat ini, tak ada kaitan terorisme yang diketahui," demikian FBI dalam statemennya seperti dilansir News.com.au, Kamis (7/1/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat Hawaiian Airlines tersebut harusnya bertolak ke Maui, Hawaii. Namun saat penerbangan baru berlangsung 90 menit, pesawat kembali ke bandara asal di Portland.
"Kapten membuat keputusan untuk mengembalikan pesawat ke Portland dikarenakan seorang penumpang mencurigakan yang membuat komentar-komentar mengancam dan menolak menyimpan tas jinjingnya," kata Suzanne Trevino, juru bicara Badan Keamanan Transportasi AS atau Transportation Security Administration (TSA).
Tidak disebutkan detail mengenai ancaman yang dilontarkan pria tersebut.
Menurut juru bicara Komando Pertahanan Udara Amerika Utara atau North American Aerospace Defense Command (NORAD), John Cornelio, NORAD mengerahkan dua jet tempur F-15 sebagai pencegahan. Sebab NORAD tidak tahu persis gangguan yang dihadapi kru pesawat Hawaiian Airlines tersebut.
"Berdasarkan informasi yang kami punya, kami putuskan bahwa perlu untuk meluncurkan pesawat tempur," ujar Cornelio.
"Pada saat ini, setiap kemungkinan ancaman ditanggapi dengan sangat serius. Dan hari ini merupakan contoh bagus soal itu," tutur Martha Richmond, juru bicara Port of Portland, yang mengelola Bandara Portland.
Keputusan mengerahkan jet tempur tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran akan keamanan penerbangan menyusul percobaan peledakan pesawat Northwest Airlines bertujuan Detroit pada Hari Natal lalu. (ita/nrl)










































