"Untuk kesekian kali, Ruhut tampil sendiri sebagai destroyer. Atau kalau di film ada peran antagonis dan protagonis, maka perilaku Ruhut bukan sekali atau dua kali sebagai antagonis," ujar pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi saat dihubungi detikcom, Kamis (7/1/2010).
Burhanuddin menduga peran itu memang sengaja dilakukan sebagai skenario Partai Demokrat. Anas Urbaningrum sebagai pemeran protagonis dan Ruhut sebaliknya. "Dua peran melengkapi, karena sudah sekian kali diulang dan memang sengaja dia (Ruhut) seperti itu karena tidak ada sanksi dari partai, dia sengaja ditaruh di peran itu," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruhut diimbau untuk meminta maaf kepada Gayus atas lontaran 'Bangsat'-nya jika memang ia seorang gentlement. Terlebih Gayus adalah pimpinan pansus. "Politisi itu biasa buat kesalahan dan kalau Ruhut ingin dilihat publik sebagai ksatria dan gentlement seharusnya Ruhut meminta maaf kepada Gayus. Gayus juga jangan terlalu pelit berikan maaf," katanya.
(amd/mok)











































