"Terlepas dari kesalahannya, beliau pantas menjadi pahlawan," kata Ketua PP Muhammdiyah Din Syamsuddin dalam acara 'Refleksi Awal Tahun CDCC' (Centre for Dialoque and Co-operation among civilization) di Jl Kemiri No 20, Jakarta, Rabu (6/1/2010).
Din mengatakan, siapun mantan presiden bisa dijadikan sebagai tokoh nasional karena sudah memberikan banyak jasa kepada negara.
"Memang pantas mantan presiden terutama yang sudah wafat diberi gelar," imbuhnya.
Din mengatakan, Gus Dur lebih pantas tampil sebagai tokoh demokrasi di Indonesia. Kalau sebagai tokoh pluralisme, itu sudah menjadi isu lama di Indonesia.
"Yang mendapat gelar pluralisme itu adalah orang yang membuat istilah Bhinneka Tunggal Ika. Saya nggak tahu apakah itu Soekarno atau M Yamin ya," jelasnya.
Gus Dur, lanjut Din, lebih tepat dikatakan sebagai pembela kaum minoritas baik itu agama seperti yang terjadi pada etnis Kong Hu Chu.
(gus/iy)










































