Nyawa WN Belanda Mahal Harganya

Nyawa WN Belanda Mahal Harganya

- detikNews
Senin, 12 Apr 2004 17:34 WIB
Den Haag - Satu nyawa WN Belanda tak ternilai harganya. Karena itu pemerintah Belanda mati-matian membelanya. Kisah berikut ini bisa menjadi pelajaran bagaimana seharusnya pemerintah melindungi warga negaranya.Pemerintah, media dan rakyat Belanda saat ini sedang bersuka cita menyambut kembalinya sang anak bangsa Arjan Erkel, seorang dokter pada Medecins Sans Frontieres (Dokter tanpa Batas), organisasi kemanusiaan sukarela ala MER-C.Erkel diculik kelompok tak dikenal di wilayah Dagestan dekat tapal batas kawasan bergolak Chechnya pada 12 Agustus 2002, ketika dia sedang menjalankan tugas kemanusiaan di sana. Erkel terutama berkonsentrasi menolong para pengungsi Chechnya, yang saat itu sedang berkonfrontasi fisik melawan Rusia.Segera setelah peristiwa itu diangkat pers dan diketahui Den Haag, upaya penyelamatan pun digelar. Deplu Belanda mengerahkan para diplomatnya untuk melobi berbagai kekuatan berpengaruh, mereka antara lain mengetuk pintu presiden Vladimir Putin, menemui Kofi Annan, bahkan hingga organisasi Veteran Dinas Intelijen Luarnegeri Rusia, hanya demi menyelamatkan satu nyawa seorang Erkel. Padahal grondwet (konstitusi) Belanda tidak memuat teks eksplisit yang mengamanatkan bahwa "...negara melindungi segenap bangsa Belanda dan seluruh tumpah darah Belanda," namun jika ada rakyatnya yang mengalami masalah, pemerintah Negeri Kincir Angin itu berupaya keras untuk menolongnya.Sulitnya, wilayah tempat Erkel diculik adalah wilayah yang sedang bergolak dan kelompok bersenjata yang menculiknya tidak dikenal. Meskipun demikian, Kedubes Belanda di Rusia yang menjadi ujung tombak upaya penyelamatan Erkel, tidak menyerah begitu saja. Bayangkan, selama hampir dua tahun pemerintah Negeri Kincir Angin itu tetap berupaya menyelamatkan warganya yang nyaris musykil. Sementara orangtua Erkel sendiri sudah pasrah, sebab selama hampir dua tahun nasib anaknya itu tidak jelas.Hingga tiba-tiba pada Minggu (11/4/2004) jam 03.00 dinihari waktu setempat, Erkel (kini 34 tahun) dikabarkan telah bebas. Informasi yang disajikan media Belanda menyebutkan bahwa Erkel bebas berkat operasi bersama yang digelar Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) dan Kementerian Dalam Negeri Dagestan. Deplu Belanda merahasiakan rapat-rapat bagaimana operasi penyelamatan itu menuai sukses. Menlu Bernard Rudolf (Ben) Bot hanya bersedia menyampaikan rasa terimakasihnya kepada pemerintah Rusia, dan berbagai organisasi internasional atas bantuan mereka dalam upayanya menyelamatkan satu nyawa warganya itu.Hari ini, Senin (12/4/2004), Erkel telah mendarat di bandara lokal Rotterdam, untuk kembali berkumpul dengan keluarganya. "Saya sangat senang bisa kembali menjejakkan kaki di Belanda dan saya bahagia. Masa-masa (selama diculik) itu adalah masa yang sangat sulit buat saya. Saya mendengar bahwa anda (pers) dan seluruh rakyat Belanda telah memberi dukungan luarbiasa untuk saya dan keluarga," demikian Erkel, yang ikut didampingi Menlu Bernard Rudolf (Ben) Bot. Erkel bukan satu-satunya warga negara Belanda yang menikmati pembelaan dan perlindungan dari pemerintahnya. Sekurangnya tujuh warga negara Belanda di Thailand yang tersangkut perkara narkoba juga merasakannya. Kini Belanda sedang mengupayakan perlindungan kepada warga negaranya di Indonesia, Sibel Yalvac, yang divonis 10 tahun (bukan 15 seperti dalam berita sebelumnya) oleh PN Tangerang karena membawa XTC alias inex.Bagi pemerintah Belanda satu nyawa warga negaranya teramat mahal nilainya, karena itu mereka dibela sekuat tenaga. (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads