Buyung Jelaskan Posisinya di Aliansi Parpol Menolak Pemilu
Senin, 12 Apr 2004 16:13 WIB
Jakarta -
Setelah dikecam kanan kiri akhirnya Adnan Buyung Nasution menjelaskan posisinya dalam Aliansi Parpol Menolak Pemilu. Menurut Buyung posisinya di aliansi parpol adalah sebagai aktivis senior, dan ia bertindak sebagai katalisator dan fasilitator.Penjelasan ini disampaikan dalam selebaran berjudul " Penjelasan dari Adnan Buyung Nasution". Selebaran yang ditandatangani Buyung pada 12 April 2004 ini dibagikan seorang pegawai dari kantor Adnan Buyung Nasution Associate, Ali Nurdin, di sela-sela pertemuan Aliansi 19 Parpol di Hotel Crown Plaza, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Senin (12/4/2004) siang.Dalam selebaran itu Buyung menjelaskan keterlibatan dirinya dalam pertemuan aliansi 19 parpol di Hotel Nikko pada Kamis (8/4/2004) dan Sabtu (10/4/2004) lalu. Buyung sendiri tidak hadir dalam pertemuan siang ini. Gus Dur, juru bicara lainnya dalam aliansi parpol ini, juga tidak hadir.Ada lima point yang disampaikan Buyung. Pertama Buyung menjelaskan bahwa ia memang bukan orang partai dan tidak mewakili partai mana pun. "Saya memang orang orang partai dan tidak pernah mewakili partai apa pun. Saya hanya lah seorang aktivis senior yang independen," tulis praktisi hukum senior berambut perak ini.Kedua, melihat perkembangan dari keseluruhan proses pemilu Buyung mengaku termasuk orang yang amat prihatin terhadap masa depan kehidupan demokrasi, hukum, dan HAM. "Proses pemilu sekarang seharusnya menjadi filter untuk membangun suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Ternyata gagal bahkan cenderung didominasi oleh kekuatan-kekuatan status quo yang korup."Ketiga, Buyung menilai proses pemilu telah dinodai oleh kegagalan KPU dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini terlihat dari pelanggaran tahapan proses pemilu, di antaranya keterlambatan pengiriman logistik pemilu, kacaunya proses tender pengadaan logistik pemilu, pemungutan suara yang tidak serentak, dan kecurangan dalam penghitungan suara. Kegagalan pemilu secara politis tidak terlepas dari tanggung jawab pemerintahan Megawati.Keempat, keprihatinan atas kegagalan KPU dirasakan juga oleh parpol peserta pemilu. Karena itu lah berkembang proses dialektika dalam pertemuan antarpartai di Hotel Nikko pada Kamis dan Sabtu yang lalu. "Peran saya dalam pertemuan itu hanya lah sekedar menjadi katalisator dan fasilitator agar semua unsur-unsur yang prihatin atas masa depan bangsa dapat bertemu, berdialog, dan menyatukan visi atas dasar kebersamaan. Dalam forum itu juga akhirnya mendaulat saya dan Gus Dur menjadi juru bicara untuk menyampaikan hasil pertemuan. Saya pun dianggap memiliki pengalaman empiris sewaktu menjabat sebagai Wakil Ketua KPU dalam proses pemilu 1999," jelas Buyung.Kemudian Buyung menegaskan, sekali pun saat ini timbul pro dan kontra mengenai penolakan pemilu namun tidak bisa dibantah bahwa pertemuan 19 parpol tersebut telah menunjukkan eksistensinya bahwa masa depan rakyat Indonesia tidak bisa didikte oleh kekuatan yang hanya bersandar pada hasil-hasil formal pemilu yang sarat dengan cacat konstitusional.
(gtp/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































