"Oh nggak ada (pengurangan). Kita masih seperti biasa. Apa yang diberikan ke kita masih normal. Tidak ada hambatan," kata Direktur Operasi Merpati Airlines, Nikmatullah, kepada detikcom, Selasa (5/1/2010).
Nikmatullah mengatakan, Merpati menerima jatah BBM sehari 9.000 liter. Sebenarnya jatah itu tidak mencukupi. Namun pihak Merpati sudah membawa BBM ekstra dari bandara sebelumnya.
"Itu memang sudah biasa. Sehingga kita membawa ekstra dari tempat lain. Memang dibatasi di sana (Timika)," ungkapnya.
Menurut Nikmatullah, Bandara Timika tidak pernah menolak melayani pengisian BBM seperti kasus Garuda. Freeport selaku pengelola selalu memberi BBM sesuai jatah Merpati.
"Nggak pernah. Dijatah sehari ya segitu 9.000 liter. Kita sejauh ini masih normal-normal saja," imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, Dirjen Hubud Herry Bakti menyatakan, pihak Freeport telah mengeluarkan edaran atas rencana mengurangi stok BBM pada maskapai yang mendarat di Timika yaitu Merpati dan Garuda.
Pada 3 Januari, kepala bandara Timika merilis surat penghentian suplai BBM pada Garuda. Pada 4 Januari, surat itu direvisi menjadi 'mengurangi' suplai saja. Meski tetap mendapat komitmen menerima avtur di Timika, Garuda memilih memindahkan rutenya ke Biak.
Bandara Mozes Kilangin di Timika beroperasi untuk internal Freeport sejak 1970-an. Pada 2008, bandara menjadi bandara umum sehingga boleh didarati oleh Merpati dan Garuda.
(gus/nrl)











































