Semua Koran Kecam Gerakan Tolak Hasil Pemilu
Senin, 12 Apr 2004 08:20 WIB
Jakarta - Jika Anda menikmati sarapan seraya membuka koran langganan Anda, maka Anda akan disuguhi oleh headline berita yang berisi kecaman terhadap gerakan menolak hasil pemilu besutan Aliansi 21 (ada yang menulis 19-red) Parpol untuk Keselamatan Bangsa.Tema kecaman itu menjadi sajian utama hampir semua koran yang beredar di Ibukota pada Senin (12/4/2004). Harian terkemuka Kompas, misalnya, menulis tema itu dengan judul "Aliansi 19 Parpol "Khianati" Rakyat". Berita ini mengutip pendapat para tokoh masyarakat yang menyayangkan gerakan yang dinilai menganggu sendi-sendi demokrasi itu.Sikap ini dipertegas dengan tajuk rencana Kompas di halaman 4. Judul yang dipasang adalah "Hasil Pemilu Ditolak? Alangkah Runyamnya!" Di alinea terakhir, koran senior ini berpendapat bahwa apa yang dilakukan aliansi parpol itu berbahaya bagi kelangsungan demokrasi di negeri ini.Koran Tempo mengangkat judul utama "Penolakan Hasil Pemilu Menuai Kecaman". Koran ini mengutip pendapat agar gerakan itu jangan cuma cari sensasi. Koran ini juga berusaha mencari siapa di balik aliansi itu.Koran milik Surya Paloh, Media Indonesia, juga menjadikan isu itu sebagai headline, "Dikecam, Partai Politik Penolak Hasil Pemilu". Harian ini mengawali beritanya dengan tulisan "Penolakan hasil pemilu oleh 19 parpol dinilai telah meresahkan rakyat."Sementara, editorial koran itu mengambil tajuk: "Produktifkah Penolakan Hasil Pemilu?" Di akhir tajuk ini ditulis: "Jadi, penolakan itu pasti akan menambah runyam".Koran Bisnis Indonesia juga meletakkan isu itu di halaman pertama. Judul yang diangkatnya adalah "Manuver Gus Dur Hanya Perang Psikologi". Isinya adalah analisis pengamat politik dari Lembaga Survei Indonesia, M.Qodari yang berpendapat bahwa aliansi dengan tokoh sentralnya, Gus Dur, hanya merupakan perang psikologi politik belaka mengingat petinggi partai yang ikut aliansi justru ramai-ramai menyangkal meneken penolakan hasil pemilu.Harian Rakyat Merdeka mengambil judul "Aa Gym Tangisi Gerakan Tolak Pemilu". Sedangkan koran berbahasa Inggris terkemuka, The Jakarta Post mengambil judul besar: "Too early to reject poll results: Major parties."Harian Republika melabeli berita utamanya dengan judul "Penolakan Bingungkan Rakyat". Sedangkan tajuk rencana/editorial koran ini bertagline "Perlukah Pemilu Ulang?"Salah satu alinea dari sikap redaksi harian itu berbunyi: "Terlalu mahal harga yang harus dibayar bangsa ini apabila pemilu diulang. Bangsa ini akan mengalami krisis konstitusi sangat besar, krisis kepercayaan, terganggungnya agenda pemilihan presiden, dan sangat memungkinkan terjadinya kevakuman pemerintahan.Kemudian, apakah pemilu ulang akan disambut masyarakat dengan antusias, sama halnya dnegan pemilu yang baru saja dilaksanakan? Sebaliknya, bukan tidak mungkin masyarakat apatis dan kehilangan kepercayaan terhadap elit politik, yang dapat saja mereka anggap mengutamakan kepentingan partai daripada rakyat?"Senarai dengan tajuk rencana di atas, apakah Anda juga antuasias jika coblosan 5 April lalu diulang kembali sejak awal? Ceritakan pada kami di redaks@staff.detik.com.
(nrl/)











































