Berikut ini adalah kronologi insiden tersebut seperti diceritakan pilot Garuda Kapten Manotar Napitupulu yang juga Presiden Federasi Pilot Indonesia, kepada detikcom, Senin (4/1/2010):
Hari Sabtu tanggal 2 Januari 2010 pukul 23.30 WIB, pesawat Boeing 737-400 nomor GA 652 berangkat dengan rute Jakarta-Denpasar-Timika-Jayapura. GA 652 dipiloti oleh Kapten Achdiyat. Karena cuaca buruk di Timika, akhirnya Achdiyat memutuskan terbang dari Denpasar langsung ke Jayapura, baru ke Timika.
Di Jayapura inilah, petinggi PT Freeport Indonesia bersama 2 stafnya ingin ikut pesawat GA 652. Padahal tiket ketiganya adalah GA 653.
"Karena sudah buru-buru, semua sudah siap berangkat. Dokumen sudah selesai. Kalau (mereka) ikut berarti dokumen berubah lagi, harus nunggu lagi. Memang aturannya juga harus seperti itu, nggak bisa," kata Manotar.
Kapten Achdiyat mendarat di Timika dari Jayapura pukul 07.10 WIT, Minggu 3 Januari. Kapten Manotar melanjutkan perjalanan Achdiyat dengan jenis pesawat yang sama namun nomor penerbangan GA 653. Manotar berangkat pukul 11.00 WIT dengan rute Timika-Jayapura-Timika-Denpasar-Jakarta.
Setiba di Jayapura, GA 653 ini harusnya berpenumpang rombongan bos Freeport. Namun petinggi Freeport tersebut memilih tak ikut penerbangan Manotar dan ingin berangkat pagi tanggal 4 Januari dengan pesawat yang dipiloti Kapten Achdiyat.
Kapten Manotar pun meneruskan penerbangan lagi ke Timika. Nah, di Timika, Manotar mendapat masalah kekurangan BBM. Sisa avtur yang ada sekitar 8.000 liter. Padahal pesawat membutuhkan 13.000 liter.
"Saya minta diisi lagi 6.000-7.000 liter buat nanti sisa teman yang akan bawa," ungkap Manotar.
Namun setelah menunggu lama di bandara, pesawat Manotar tak kunjung mendapat pasokan. Manotar pun mendatangi kepala bandara untuk menanyakan pengisian BBM itu. Oleh kepala bandara dijelaskan kalau Garuda tak bisa mengisi BBM di Timika. Disebutkan bahwa Direktur Garuda harus minta maaf.
"Saya pikir persoalannya sudah selesai karena station manager Garuda sudah berbincang-bincang dengan pihak Freeport soal ini dan sudah selesai. Tapi ternyata lain di mulut lain di hati," imbuhnya.
Karena BBM tak mencukupi guna meneruskan perjalanan keΒ Denpasar, Manotar memutuskan terbang ke Biak. Sampai di Biak, pesawat diisi BBM sesuai kebutuhan.
"Masak kita harus minta Pak Menhub buat lagi bandara di Timika," tandasnya.
(gus/nrl)











































