Seperti dilansir AFP, Minggu (3/1/2009), serangan bom ini terjadi di sebuah desa bernama Bagto, yang berjarak 10 kilometer dari kota Hangu, kota bersejarah yang menjadi tempat bentrokan sektarian antara Muslim Sunni dan Syiah.
"Empat orang, termasuk Ghani-ur Rehman tewas dalam serangan. Tiga orang lainnya yakni seorang pengawal, sopir, dan temannya," ujar Kepala Kepolisian kota Hangu, Abdul Rashid Khan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia kemudian menjadi salah satu penerima amnesti yang melindungi 8 ribu politisi, pebisnis, dan pejabat pemerintah dari tuduhan korupsi. Namun, sayangnya amnesti tersebut dibatalkan oleh Mahkamah Agung.
Anaknya, seorang anggota parlemen, meyalahkan Taliban dan militan lainnya atas pembunuhan ayahnya. "Ayahku dua kali menjadi target serangan. Taliban dan kelompok militan terlibat dalam serangan ini," kata anak Rehman, Ateeq-ur Rehman.
"Ini adalah ledakan bom dengan kendali jarak jauh. Dengan bahan peledak tingkat tinggi, Kendaraannya hancur," kata juru bicara kepolisian setempat, Fazal Naeem.
(nvc/mad)











































