Pemilu Ulang Lebih Merusak

Fachry Ali:

Pemilu Ulang Lebih Merusak

- detikNews
Sabtu, 10 Apr 2004 18:16 WIB
Jakarta - Sebanyak 19 parpol menolak hasil Pemilu dan meminta dilakukan Pemilu ulang. Pengamat politik Fachry Ali menyesalkannya. Menurutnya digelarnya Pemilu ulang justru akan lebih merusak masa depan bangsa.Fachry menyampaikan pendapatnya saat dihubungi detikcom melalui telepon, Sabtu (10/4/2004) sekitar 17.50 WIB. Sebelumnya sebanyak 19 parpol yakni PPP, PKB, PD, PKS, PAN, PNI Marhaenisme, PBSD, Partai Merdeka, Partai PIB, PPDI, PDS, Partai PP, Partai Pelopor, PPDK, PKPI,PBR, PNBK, PLPB dan PSI. Sedangkan 5 parpol yang tidak ikut aliansi itu yakni PDIP, Golkar, PBB, PPNUI dan PPD. Menurut Fachry, penolakan itu terjadi karena 19 parpol itu tak bisa menerima Golkar dan PDIP masih menempati posisi tertinggi perolehan suara. Padahal menurut Fachry, Pemilu legislatif telah berjalan demokratis tanpa campur tangan pemerintah."Ini berangkat dari asumsi bahwa Golkar dan PDIP tak disukai lagi oleh rakyat. Nah ketika masyarakat ternyata masih memilih kedua parpol itu mungkin timbul rasa gelo," kata Fachry. Fachry menilai tindakan 19 parpol itu tidak tepat. Tuntutan Pemilu ulang justru semakin memberi ketidakpastian masa depan bangsa secara keseluruhan. Selain itu Pemilu ulang juga semakin menyudutkan kepemimpinan sipil."Coba bayangkan seluruh perhatian masyarakat saat ini sedang tercurah pada hasil Pemilu. Hampir semua orang sedang merancang program pasca Pemilu. Kalau kemudian suasana politik yang sudah relatif membaik ini dimentahkan kembali, orang tak lagi ada berpikiran yang positif terhadap bangsa Indonesia," ingat Fachry.Parpol, kata Fachry, semestinya berjiwa besar dengan menerima hasil Pemilu tersebut. Sedangkan mengenai kecurangan yang terjadi bisa diselesaikan dengan menghukum pelakuknya. "Kalau kecurangan maka cari kecurangan itu hukum yang melakukan kecurangan, jangan merusak sistem secara keseluruhan," tandas Fachry. (iy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads