Penolakan Sejumlah Parpol Pada Sistem TI Wajar
Sabtu, 10 Apr 2004 11:58 WIB
Jakarta - Penolakan sejumlah partai politik (parpol) terhadap penghitungan suara yang menggunakan sistem Teknologi Informasi (TI) adalah wajar. Banyak hal yang menyebabkan masyarakat tidak mempercayai sistem tersebut.Demikian ditegaskan Ketua Lembaga Survey Indonesia (LSI) Muhammad Qodari, MA kepada wartawan di sela-sela acara Mimbar Akhir Pekan di Hotel Peninsula, Jl. S Parman, Jakarta, Sabtu (10/4/2004)."Misalnya dari sisi jumlah perolehan suara dimana Partai Golkar semenjak awal memimpin. Tapi hanya 10 menit sebelum Mega (Ketua Umum PDIP) berkunjung ke Pusat Tabulasi Nasional, tiba-tiba PDIP memimpin," kata Qodari.Tidak hanya itu, kejadian lainnya yang memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap sistem tersebut adalah, peristiwa lonjakan jumlah suara hasil penghitungan sementara yang terjadi tiba-tiba."Pada waktu itu dari kisaran 4 juta tiba-tiba melonjak ke angka 70 juta. Namun tidak lama kemudian kembali lagi. Ini yang semakin menyebabkan orang tidak percaya dengan sistem TI," ungkap Qodari, mengenang kejadian beberapa waktu lalu.Dikatakan Qodari, rendahnya kepercayaan publik ini akan memaksa KPU untuk menggunakan cara-cara manual. Yang jelas, sambungnya, semua ini bersumber dari ketidakpercayaan masyarakat terhadao kinerja KPU secara umum."Jika semakin banyak parpol yang menolak penghitungan dengan sistem elektronik, saya kira KPU akan kembali ke sistem manual lagi," Demikian Qodari.
(djo/)











































