Seniman Gathmyr Senen Meninggal

Seniman Gathmyr Senen Meninggal

- detikNews
Jumat, 01 Jan 2010 14:15 WIB
 Seniman Gathmyr Senen Meninggal
Palembang - Masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) kehilangan putra terbaiknya dalam pengembangan seni dan budaya. Gathmyr Senen, yang lebih dikenal dengan sapaan Mir Senen, meninggal dunia dalam usia 54 tahun. Dia merupakan pemilik museum senirupa Mir Senen Galery, yang merupakan satu-satunya museum senirupa di Palembang.

"Dia meninggal dunia pukul 00.30 dini hari tadi. Dia akan dikebumikan di Betung, Banyuasin. Penyebab meninggalnya lantaran sakit," kata Tarech Rasyid, teman Mir Senen, Jumat (01/01/2010).

Bapak dari satu anak kelahiran Palembang pada 5 Mei 1955 ini lebih dikenal sebagai sosok penggerak senirupa dan pengembang kerajinan di Sumatra Selatan, khususnya kain songket. Doa sering menyelenggarakan sejumlah pameran senirupa, kerajinan, baik di Palembang, Jakarta, maupun luar negeri. Mir juga mendapat sejumlah penghargaan dari pemerintah Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mir Senen, terlahir dari keluarga kaya dari Palembang, yakni Haji Senen yang memiliki banyak toko di Palembang. Pendidikan seninya didapat dari jurusan Interior Dekorasi ASRI tahun 1978.

Saat ini selain memiliki Museum Mir Galeri, dia juga memiliki kampung seni di Jalan Sarelo Palembang. Di kampung ini, terdapat sejumlah studio mini perupa di Palembang.

Museum Mir Senen terletak juga di Jalan Serelo, Palembang. Museum ini didirikan sejak tiga tahun lalu, 2006. Museum terletak di lantai dua dan tiga. Sementara di lantai satu, merupakan galeri milik Mir Senen.

Dalam sebuah perbincangan beberapa waktu lalu, Mir Senen mengaku, museum tersebut dicita-citakannya sejak 28 tahun lalu. Ada tiga hal yang mendasari pembuatan museum ini.

Pertama, setelah meninggal dunia, dia berharap museum memberikan amal baginya, sebab memberikan sumbangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat yang mengunjunginya. Kedua, museum yang didirikan pemerintah banyak yang diisi oleh benda-benda yang tidak asli atau isinya selalu berubah. Ketiga, museum milik pemerintah juga barangnya terbatas lantaran keterbatasan dana.

(asy/tw)


Berita Terkait