Acara doa antar-iman melepas kepulangan Gus Dur tersebut bertema meneruskan komitmen terhadap demokrasi, pluralitas dan humanisme. Dalam pandangan seluruh peserta acara, tiga hal penting itulah yang selalu diperjuangkan Gus Dur selama puluhan tahun hingga Gus Dur tutup usia.
Dari Kalangan Konghucu diwakili oleh rohaniawan Adi Candra. Adi mengatakan, Gus Dur layaknya dewa atau malaikat bagi warga Konghucu di Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendeta Eko Darsono yang mewakili Kristen Protestan menilai tulisan-tulisan Gus Dur dekade 80-an hingga 90-an menyadarkan para pemimpin agama tentang pentingnya kebersamaan. Ide-ide Gus Dur tentang kesamaan hak menyadarkan sebagian besar warga tentang hak politik. Sedangkan keberanian Gus Dur menentang kesewenangan, menjadi penyemangat untuk menghargai kemanusiaan.
Hal serupa juga ditegaskan oleh Bagyo Hadi dari Parisadha Hindu Dharma. Bagyo mengatakan, banyak tokoh yang kelihatan berani atau bergaya pemberani. Namun hanya Gus Dur tokoh yang keberaniannya tanpa tanding dan tanpa pamrih dalam memperjuangkan kebenaran dan persamaan hak. Sebagai rohaniawan Islam, dia mampu menembus segala batas sehingga bisa semua kalangan.
Romo Heri Irianto dari kalangan Katolik dan Zainal Abidin dari perwakilan umat Islam mengatakan, Gus Dur adalah pejuang yang gigih untuk memberi tempat bagi semua orang dan membangun kerjasama dalam kehidupan berbangsa. Gus Dur menolak semua kekerasan atas dalih apapun, apalagi dalih agama.
"Beliau orang yang selalu rindu perbaikan kehidupan bersama, didasari oleh kecintaan pada semangat kehambaan kepada Tuhan," ujar Romo Heri.
Acara ditutup dengan doa bersama para peserta acara yang dipimpin secara bergilirian oleh para rohaniawan tersebut. Sebelumnya dibacakan puisi oleh penyair Wary Wirana.
(mbr/rdf)










































