"Itu persoalan kekerasan fisik biasa. Yang kita kecewakan itu, kita khawatir setiap perbedaan pendapat itu diatasi dengan kekerasan, itu saja. Yang lebih teraniaya itu adalah demokrasi," kata Ramadhan.
Hal ini disampaikan Ramadhan usai melaporkan George ke Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (30/12/2009).
Jika pemukulan itu dibiarkan, Ramadhan khawatir apabila perbedaan pendapat diatasi dengan kekerasan.
"Kami khawatir nanti kalau hal ini dibiarkan begitu saja, kalau ada pendapat langsung main tangan, main pukul, mau dibawa ke mana demokrasi kita kalau perbedaan pendapat diatasi dengan kekerasan?" ujarnya.
"Ini biasalah. Kita dulu juga aktivis, kita juga dikejar-kejar aparat, jadi biasa. Ini lebih pada kekerasan demokrasi," lanjut Ramadhan yang bergegas menuju RS Jakarta untuk melakukan visum.
Ramadhan mengaku mengalami memar di mata kirinya akibat dipukul George dengan buku saat acara launching 'Membongkar Gurita Cikeas' di Dukun Coffee, Jalan Raya Pasarminggu, Jakarta Selatan. George beralasan memukul ramadhan untuk menghentikan halusinasi Ramadhan tentang bukunya. George mengaku bukunya tidak sempat menyentuh Ramadhan.
Ramadhan sendiri mengaku sengaja datang ke acara itu untuk memberi pelajaran pada George. Ramadhan tidak mendapat undangan untuk menghadiri acara launching buku kontroversial tersebut.
(aan/iy)











































