Shimada hidup seorang diri setelah berpisah dengan suaminya yang merupakan warga Indonesia. Sebelum meninggal, ia hidup menjanda pasca bercerai dua kali. Dari pernikahannya, Shimada memiliki seorang anak yang diasuh oleh mantan suaminya.
Korban telah lama menghabiskan hidupnya di Bali. Diperkirakan, ia menetap di pulau dewata selama 10 tahun. Selama di Bali Shimada hidup di rumah kontrakan. Tempat tinggal terakhirnya di Jalan Sada Sari, Kuta. Di rumahnya kontrakannya inilah, ia meregang nyawa.
Namun, kehidupan Shimada tidak se-glamour para wisatawan Jepang lainnya. Ia hidup layaknya warga lokal.
Ironisnya, selama di Bali, Shimada tidak memiliki pekerjaan. Ia hanya mengantungkan nasibnya dari kiriman uang tiap bulan oleh neneknya. Menurut tetangganya, Shimada mendapatkan kiriman sekitar Rp 20 juta per bulan.
Namun uang itu habis dalam sekejap. Saat memegang uang berlimpah, pola hidupnya menjadi liar. Ia suka dugem serta menegak miras bersama beberapa anak baru gede (ABG) yang dikenalnya.
Setelah uangnya ludes untuk berfoya-foya, Shimada hidup melarat. Ia meminjam atau meminta uang dari tetangga. Bahkan, untuk makan sehari-hari, ia berhutang di warung dekat rumah kontrakan.
Kehidupan Shimada itu dibenarkan Kapolda Bali Irjen Polisi Sutisna. "Dia tidak mempunyai pekerjaan. Kehidupan ekonomi sehari-harinya sangat memprihatinkan. Ia juga banyak bergaul dengan masyarakat sekitar," ujar Sutisna.
(gds/djo)











































