"Pembicara utama tetap, George Junus Aditjondro. Ada juga 10 penanggap dalam launching siang nanti," kata panitia peluncuran, Haris Rusly, kepada detikcom, Rabu (30/12/2009). Buku tersebut sebelumnya telah diluncurkan di Yogya pada Rabu, 23 Desember.
Selain Bambang Soesatyo, penanggap buku tersebut di antaranya para aktivis mahasiswa seperti Ketua Umum PMII, GMNI dan Sekjen HMI. Pihak Istana juga dikabarkan akan hadir dalam peluncuran yang akan berlangsung di Doekoen Coffee, Pancoran, Jakarta Selatan, pukul 12.30 WIB tersebut.
"Dari Istana sendiri ada Staf Khusus Presiden, Andi Arief," ujar aktivis 1998 ini.
Haris menyayangkan toko buku besar seperti Gramedia hingga saat ini masih belum berani menjual buku George. Menurutnya, kebebasan demokrasi, termasuk kebebasan mengungkapkan kejahatan ekonomi dalam sebuah buku, sah-sah saja. "Jadi tidak usah takut," pendapat Haris.
Dia menjelaskan, tidak ada yang salah dengan buku yang diterbitkan oleh Galangpress, Yogyakarta ini. Kebebasan berekspresi di alam demokrasi selayaknya dijamin oleh undang-undang.
"Apa yang salah dengan isi buku ini? Kan presiden percaya dengan demokrasi. Salah satu bentuk demokrasi adalah kebebasan publik untuk mengungkap kejahatan ekonomi dan korupsi, meskipun misalkan itu dilakukan oleh presiden. Ini dijamin oleh hukum oleh di alam demokrasi," bebernya.
Sebagai anggota Petisi 28, Haris mengaku cuma sebagai fasilitator saja. Masalah distribusi, dia serahkan ke penerbit. "Kita sebagai fasilitator saja, karena buku ini sepemikiran dengan kami," ujarnya.
Panitia tidak mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dalam launching buku tersebut. Panitia cuma berharap, tidak ada pihak-pihak yang mencoba menggagalkan peluncuran buku 183 halaman itu.
"Niat kita baik. Semoga nggak ada masalah. Kalau ada masalah berarti ada pihak-pihak yang ingin menggagalkan acara ini," pungkas Haris.
(anw/iy)











































