Surat Terbuka untuk TI KPU
Kamis, 08 Apr 2004 11:19 WIB
Jakarta - Seorang pembaca detikcom, Riwut Libinuko, menyampaikan surat terbuka berisi keprihatinannya atas kinerja tim ahli TI KPU. Selain ditujukan pada redaksi, email itu juga dikirimkan kepada Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin dan Chusnul Mar'iyah yang mengurusi tender TI KPU."Terus terang saya merasa prihatin, malu dan gemes melihat kinerja TI-KPU, yang sangat jauh dari apa yang digembar-gemborkan. Maksud dari tulisan ini bukan hendak memperkeruh suasana atau mencari kambing hitam, namun dengan rendah hati ingin mengetuk hati petinggi KPU Prof. Dr. Nazarudin S. MA dkk, serta tim ahli TI-KPU Dr. Basuki Suhardiman yth," alasan Riwut.Ingin tahu isi suratnya? Berikut kompletnya:Yth. para petinggi KPU dan tim ahli TI-KPU,Apa yang sekarang terjadi dalam proses perhitungan suara sungguh mencengangkan dan 'di luar dugaan' kita semua. Untuk itu saya pribadi, ingin mengacungkan jempol sebesar-besarnya kepada Ibu Chusnul Mar'iyah Ph.d, beserta tim Dr. Basuki Suhardiman, yang pada waktu itu telah berjanji dengan penuh percaya diri "bahwa dalam waktu 9 jam setelah pencoblosan ... dst...".Pada waktu itu, hanya decak kagum yang terlintas dalam benak saya, betapa hebat tim TI-KPU telah mempersiapkan pemilu ini dengan sangat sempurna. Dan lebih hebatnya lagi, janji itu, telah membuat saya berfikir bahwa "Tingkat kegagalan TI-KPU lebih dari 90%" - Kompas 3 April (CMIIW) - adalah mengada-ada yang cuma bermaksud menjatuhkan konfiden TI-KPU.Hari ini, sudah lebih dari 48 jam hari H pencoblosan berlalu, namun data yang berhasil direkap belum menyentuh 30% apalagi 90% total pemilih di Indonesia. Hari ini pula saya teringat dengan apa yang telah diwanti-wanti oleh para pakar dan pengamat TI di Indonesia, bahwa sistem TI-KPU sangat rawan kegagalan; bahwa desain sistem TI-KPU sangat tidak cocok dengan kondisi lapangan dsb. Dan hari ini pula saya seperti melihat bahwa KPU dkk. masih sama seperti yang dulu, tidak bergeming dan tetap arogan dengan apa yang mereka miliki.Para petinggi KPU dan tim ahli TI-KPU yth.,Saya kagum atas gelar yang Sdr. semua miliki, namun gelar itu tidaklah berarti apa-apa jika dinaungi oleh sikap-sikap arogan. Saya pernah merasa bangga kepada Sdr., yang saya pikir bisa menggelar TI yang begitu besar, sempurna dalam waktu yang singkat, namun kebanggaan itu sekarang sirna sudah. Saya lebih bangga kepada orang-orang yang bisa membuka diri dan melakukan perubahan.Para petinggi KPU dan tim ahli TI-KPU yth.,Saya yakin, bahwa saran pakar dan pengamat TI Indonesia adalah murni dan tanpa interest apapun. Saya yakin, bahwa mereka ingin membantu Sdr. menggelar hajatan ini menjadi jauh lebih baik. Jauhkan pikiran-pikiran kotor Sdr. sehingga Sdr. dapat mencerna dengan baik saran yang mereka sampaikan.Ada Onno, Roy Suryo, Heru S, dll. pakar IT di Indonesia yang buanyak jumlahnya, yang kalau pemikiran dan idenya digodok jadi satu pasti mewujudkan kebanggaan yang tersendiri buat kita; namun kenapa Sdr. musti selalu memalingkan muka dari mereka-mereka semua? Apakah Sdr. malu bertanya karena gelar yang bertumpuk-tumpuk? Tidaklah memalukan untuk bertanya, ketimbang bersikap arogan dan tanpa bukti.Kalaulah, jauh-jauh hari Sdr. mau membuka mata dan telinga, melapangkan dada dan mawas diri, tentulah kegagalan ini tidak separah yang saat ini terjadi.Para petinggi KPU dan tim ahli TI-KPU yth.,Saya malu dan prihatin atas kinerja TI-KPU. Saya kecewa karena janji-janji Sdr. terbukti hanya omong besar semata. Saya merasa dibodohi oleh janji-janji Sdr. dan berharap agar segera dilakukan audit secara independen atas TI yang Sdr gelar.Akhir kata, saya kembali mengetuk pintu hati Sdr. petinggi KPU dan tim ahli TI-KPU yth. untuk lebih mawas diri dan menjauhkan diri dari sikap arogan.Terima kasih,Riwut Libinuko
(nrl/)











































