"Bicara krisis, bukan hanya SBY yang menghadapi. Tapi dihadapinya jangan dengan tampil memelas. Seseorang yang dalam posisi inferior, jika tampil memelas akan dikasihani. Tapi kalau orang dalam posisi superior, dan dia memelas, tidak akan dikasihani," kata Anies.
Hal tersebut disampaikan dia saat menyampaikan Refleksi Akhir Tahun "Rekayasa Indonesia Baru" di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (29/12/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasus Bibit-Chandra sebenarnya soal leadership dan keberanian. Hadapi saja seharusnya kelompok penentang itu. Tapi, ketika pemimpin posisinya to please everyone, maka dia akan kehilangan kewibawaan dari kelompok pendukung dan tidak berani menghadapi penentang," kata Anies.
Dalam 5 tahun pertama kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla (JK) pada tahun 2004-2009, Anies melihat, SBY lebih menjalankan komunikasi antara dirinya dan rakyat. Sedangkan peran komunikasi dengan kekuatan politik diambil oleh JK.
"Sekarang, dikerjakan sendiri dan terbukti dalam dua bulan ini tidak dikelola dengan baik sehingga memunculkan riak-riak politik yang menguras energi," tandasnya.
(Ari/nvc)











































