"Saya kira dari banyaknya SMS yang masuk, dari pagi hingga malam itu, lebih banyak yang mendukung. Sampai sudah tidak terhitung berapa banyak yang mendukung," kata George di sebuah hotel di Jakarta, Selasa (29/12/2009).
"Kalau yang menyerang ada, tapi itu kecil masih bisa dihitung. Jadi apa yang harus ditakuti? Mereka punya hak membela diri. Mau somasi, mau terbitkan buku, terserah," imbuh George santai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut pria peraih gelar PhD dari Cornell University, New York, Amerika Serikat (AS) tersebut, bukunya mengurai tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat. Dikatakan dia, legitimasi keduanya dalam pemilu 2009 diragukan.
"Masalah Century saja, orang sudah menduga ada intervensi SBY," tandas George yang asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu.
Lebih lanjut George menjelaskan, setelah sedikit membahas kasus Century, bukunya masuk ke pengusaha Budi Sampoerna, Harian Jurnas Nasional, dan Kantor Berita Antara. Mereka-mereka adalah penyokong SBY dalam pemilu akbar yang lalu.
"Kemenangan Demokrat dan SBY bukan murni karena melalui pencitraan iklan yang dibangun Fox denganย biaya mahal, tapi ada langkah yang melanggar UU dengan pembelian suara," ujar mantan jurnalis Tempo ini.
"Ya, mungkin strategi SBY yang saya sebut Gurita Cikeas tidak memberi larangan, tapi ada unsur yang merasa terhina, keluarga dari Sampoerna yang mungkin akan menyomasi," duga George.
(irw/irw)











































