"Kalau memang nggak benar, nggak usah kalap dong," kata anggota FPDIP Rieke 'Oneng' Dyah Pitaloka saat dihubungi wartawan, Selasa (29/12/2009).
Menurut Oneng, panggilan akrab Rieke, jika nantinya buku tersebut dilarang justru mengindikasikan buku itu benar. "Kalau dilarang, kan malah muncul dugaan jangan-jangan benar? Kalau nggak bener, nggak usah dilarang, biarkan saja masyarakat membaca," jelas Oneng.
Anggota komisi IX DPR itu mengaku prihatin dengan ancaman pelarangan buku yang dianggap menggangu kenyamanan para penguasa. Jika tradisi pelarangan kembali diberlakukan, maka rezim sekarang tak jauh beda dengan rezim orde baru.
"Masyarakat kita sudah dewasa, sudah bisa membedakan mana yang baik dan tidak. Biarlah publik yang menilai," terangnya.
Saat ditanya apakah sudah membaca buku tersebut, aktivis perempuan itu mengaku belum. "Belum, susah dapetnya dengar-dengar. Aku belum cari banget sih," tandasnya.
(amd/yid)











































