"Kita ingin berikan penghargaan ini kepada orang-orang yang menjadi simbol ketidakadilan, simbol perlawanan rakyat," kata Koordinator Kontras, Usman Hamid dalam sambutannya di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (28/12/2009).
Usman menilai, tahun 2009 ini adalah tahun pragmatisme politik di mana banyak persoalan menumpuk di tahun tersebut. Seperti persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan lumpur Lapindo. Usman juga melihat, di tahun 2009 ini sebagai tahun kemerosotan komitmen Hak Azasi Manusia (HAM).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Agus Suwandi Tanjung. Agus adalah penyewa unit di Apartemen Mediterania, Jakarta Barat. Agus dipenjara 87 hari karena tertangkap mengecas handphonenya di apartemen tersebut.
2. Koh Seng-Seng. Koh Seng-seng harus berhadapan dengan aparat penegak hukum karena menulis surat pembaca mengenai properti di ITC Mangga Dua, Jakarta Barat.
3. Suciwati. Istri aktivis HAM, Munir diberi penghargaan atas kegigihannya mencari keadilan atas terbunuhnya Munir.
4. Nenek Minah. Sosok yang populer akhir-akhir ini karena harus berurusan dengan penegak hukum. Nenek Minah menjalani hukuman percobaan 1 bulan 15 hari karena mencuri 3 biji kakao.
5. Korban lumpur Lapindo. Pemberian penghargaan diwakilkan kepada putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo.
6. Komarudin Hidayat. Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) ini diberi penghargaan atas upayanya membebaskan pimpinan KPK, Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah dalam Tim 8.
7. Misbakum. Dia adalah inisiator Pansus Century.
8. Usman Yasin. Warga Bengkulu yang diberi penghargaan karena telah membangun gerakan melawan ketidakadilan atas kasus Bibit-Chandra dalam 'Gerakan 1 Juta Facebookers pendukung Bibit-Chandra'.
Dalam acara tersebut, hadir pakar komunikasi politik Effendi Gazali dan aktifis Kompak, Fadjroel Rahman. Acara dimeriahkan dengan pementasan seni seperti Melani Subono, Iwan Fals, Sujiwo Tejo dan Butet Kertarajasa.
(mei/anw)