PDIP di Solo Tetap Teratas, Mangkunegoro IX Terbanyak
Rabu, 07 Apr 2004 16:16 WIB
Solo - Data KPU Kota Solo hingga pukul 13.30 WIB Rabu (7/4/2004) menunjukkan Solo masih menjadi kandang moncong putih. Sedangkan penguasa Istana Mangkunegaran, Sri Paduka Mangkunegoro IX, pengumpul suara terbanyak sementara untuk DPD. Hasil perhitungan suara sementara yang masuk di KPU Kota Solo untuk DPR Pusat, posisi teratas ditempati PDIP dengan 3.498 suara, disusul PAN 1.708 suara, Partai Demokrat 1.335 suara, Golkar 1.334 suara, dan PKS 1.128 suara. Paling sedikit mendapat dukungan untuk sementara adalah PNUI 8 suara dan Partai Merdeka 7 suara.Sedangkan untuk 54 calon DPD dari Jawa Tengah, suara terbanyak sementara dikumpulkan Mangkunegoro IX dengan 3.295 suara. Posisi kedua ditempati oleh Ketua DPW Muhammadiyah Jawa Tengah A Dahlan Rais yang juga adik kandung Amien Rais dengan 1.491 suara. Pada posisi ketiga adalah pemilik Harian Suara Merdeka Budi Santoso dengan 542 suara.Yang cukup menarik adalah ada satu suara yang menclobos gambar kosong. Sebelumnya calon DPD berjumlah 55 orang, namun salah satu dari mereka yaitu KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mengundurkan diri. Kotak nomor 22 pada kartu suara yang seharusnya diisi foto Gus Mus akhirnya dikosongkan tanpa diberi nama. Namun demikian masih juga ada yang memilihnya.Kartu Pemilih Tak TerpakaiSementara itu di meja kerja salah seorang anggota KPU Solo hingga saat ini masih menumpuk ribuan kartu pemilih tidak terdistribusikan kepada yang berhak. Kartu-kartu itu menumpuk di meja Wiranto, anggota KPU Solo yang membinagi Pokja Pemungutan Suara dan Penetapan Hasil Pemilu.Kartu-kartu itu masih tersebar di meja, ada pula yang masih diikat karet rapi. Ketua KPU Kota Solo, Eko Sulistyo, mengaku belum mengetahui secara pasti persoalannya karena belum mendapat laporan dari Wiranto mengenai kasus tersebut. Wiranto sendiri sedang tidak berada di tempat."Mungkin saja tidak terdistribusikan karena orang yang namanya tertera di kartu sudah meninggal dunia, pindah tempat, salah alamat, atau salah penulisan nama. Ini baru kemungkinannya karena sampai sekarang saya belum menerima laporan dari Mas Wiranto. Kami akan segera melakukan klarifikasi karena kartu itu nanti juga dipakai untuk pemilihan presiden mendatang," papar Eko Sulistyo.
(asy/)











































