"Sama saja menjual majalah porno yang tidak bermanfaat," kecam Irman.
Hal ini disampaikan dia di Gedung Nusantara III DPR, Senayan, Jakarta, Senin (28/12/2009).
"Kita telah memasuki era demokrasi. Kita sedang belajar menyampaikan kebebasan berekspresi. Demokrasi harus ada aturannya, tidak boleh melemparkan sesuatu tanpa fakta. Jangan hanya dengan data sumir, buku harus ada tanggung jawab akademisnya," beber Irman.
Irman mengaku tidak ingin membaca buku itu. "Buat saya hanya sensasi saja. Kalau dibedah itu yang jelas. Kalau buku gosip buat apa dibedah. Harus jelas nilai-nilainya, kalau kita bikin buku harus ada investigasi," ujar dia.
Menurut dia, George harus menjelaskan dan mempertanggungjawabkan maksud buku yang menghebohkan ini.
(aan/nrl)










































