Antusiasme warga Bengkulu pun semakin meningkat ketika menyaksikan sekitar 20 Tabot yang tingginya tak kurang dari 9 meter untuk yang terakhirnya kalinya di tahun ini.
Acara pun semakin meriah ketika band lokal membawakan sebuah lagu, anak-anak yang ditemani ibunya pun asyik berdendang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari pantauan detikcom, Sabtu malam (26/12/2009) polisi terpaksa menutup akses menuju rumah Gubernur dan tidak memperbolehkan kendaraan roda dua ataupun roda empat memasuki jalan Indra Cahya dan Ahmad Yani, Bengkulu.
Polres Bengkulu pun terlihat kewalahan mengatur pengunjung yang tidak habis habisnya berkunjung ke tempat upacara Tabot dilaksanakan. "Maaf pak gak bisa bisa lewat, jadi kami tutup. Parkir di luar aja," ujar salah seorang petugas polisi.
Suasana semakin semerawut ketika para pedagang kaki lima menjual barang dagangannya di pinggir jalan Indra Cahya dan jalan Akhmad Yani. Sebab, Minggu pagi tepat pada 10 Muharam tabot-tabot tersebut harus sudah diarak ke salah satu tempat sakral di Bengkulu yakni sebuah kompleks pemakaman ulama perintis Islam di Sumatera yang terletak di Karbala, sekitar 3,5 km dari Bengkulu.
Upacara Tabot ini sudah berjalan sejak 18 Desember 2009. Dan usai dzuhur Minggu 10 Muharram atau 27 Desember 2009, Tabot harus sudah dihancurkan.
Perayaan Tabot ini merupakan peringatan atas wafatnya Husein cucu Nabi Muhammad SAW di Padang Karbala (Irak) ketika dicegat oleh 4.000 pasukan Yazid bin Muawwiyah yang berhasrat menjadi khalifah.
(ikh/mad)











































