Kisah sedih yang dialami warga Desa Kalisari, Kecamatan Blado, Batang, Jawa Tengah, ini berawal pada 9 tahun silam. Saat itu tanpa sebab, muncul bintik merah di bola mata kirinya. Namun hal ini tak terlalu diperhatikan oleh orangtua Magfiroh. Maklum, mereka miskin sehingga tak memiliki uang untuk sekadar memeriksakan kesehatan sang anak ke dokter.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Seiring berjalannya waktu, ternyata bintik merah itu tak juga hilang. Sebaliknya, kian menjadi besar. Sampai akhirnya menutupi mata kiri Magfiroh.
Melihat kondisi sang anak, orangtua Magfiroh sebenarnya sempat membawanya ke RS dr Karyadi, Semarang pada 2003 lalu. Dokter menyatakan Magfiroh menderita tumor ganas dan harus dioperasi. Guna kesembuhan sang anak, orangtua Magfiroh akhirnya menjual satu-satunya rumah mereka untuk biaya operasi.
"Saya tidak mengira jika bintik tersebut adalah tumor," ujar Chotijah, ibu Magfiroh, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (26/12/2009).
Β
Namun pascaoperasi, derita Magfiroh tak berakhir. Sebaliknya, tumor ganas di mata kirinya terus membesar. Bahkan kini tumor tersebut telah menutupi semua bola matanya dan kerap mengeluarkan darah.
Chotijah sekarang hanya bisa pasrah. Dia tidak memiliki harta benda lagi yang bisa dijual untuk biaya berobat buah hatinya. Mereka saat ini juga menumpang di rumah kerabat.
Sedangkan Magfiroh terpaksa putus sekolah. Kondisi fisiknya membuat dirinya rendah diri bila bertemu orang lain. Belum lagi rasa sakit yang teramat sangat kerap menyerang kepalanya.
"Kalau sedang kumat, dia suka kesakitan di bagian kepala," ungkap Chotijah.
(djo/djo)











































