'Ah, Ternyata Jeblok Pindah Aja'
Selasa, 06 Apr 2004 21:14 WIB
Den Haag - Hasil perolehan suara langsung diumumkan padahal pemungutan suara tidak serentak, ternyata menimbulkan dampak tersendiri. Calon pemilih banyak yang menyeberang setelah tahu partai idolanya kedodoran.Di TPSLN KBRI Den Haag (5/4/2004), banyak pemilih yang tiba-tiba memutuskan untuk menyerahkan suaranya kepada partai lain setelah mereka memantau pergerakan perolehan suara di detikcom, yang terus tersaji dari detik ke detik. Dari pantauannya itu mereka melihat partainya loyo digeser partai-partai lain."Wah, kalau begini perkembangannya mendingan saya ikut pilih partai ini aja," ujar salah seorang calon pemilih, seraya menyebut salah satu nama parpol. Ia berargumen bahwa suaranya akan sia-sia jika ia tetap memberikannya kepada partai yang semula ia idolakan, karena kecenderungannya akan jeblok.Calon pemilih lain, yang mengaku bukan pemilih mengambang, juga memutuskan beralih pilihan setelah memantau pergerakan perolehan suara di detikcom. Semula ia mengira partai idolanya, PDIP, akan 'habis'. "Daripada suara saya hangus, mendingan saya kasihkan ke partai lain," katanya. Partai lain yang dia maksud adalah Partai Demokrat. "Padahal saya tidak tahu partai apa ini. Caleg-calegnya juga saya tidak kenal. Yang saya tahu hanya nama Susilo Bambang Yudhoyono. Ya, coba-cobalah. Siapa tahu bisa ada perubahan lebih baik. Pergerakan suara partai ini mampu menyaingi partai pemerintah. Ya, saya pilih dia. Soalnya partai yang mau saya pilih gelagatnya jeblok kok. Nggak masuk lima besar. Daripada suara terbuang, saya serahkan aja ke Demokrat," paparnya.Pengakuan sejenis masih panjang jika dicatat satu per satu. Mereka mengungkapkan perubahan haluan pilihan itu juga secara berkelompok, sambil menunggu panggilan nomor antri oleh PPSLN. Akibatnya, hal itu menjadi kecenderungan yang menyeret orang lain. Hanya saja sulit merekam berapa persisnya jumlah calon pemilih yang berubah pikiran seperti itu. Yang jelas jumlahnya cukup banyak. Barangkali ini salah satu faktor yang bisa menjelaskan mengapa suara beberapa partai menyusut drastis pada Pemilu 2004 ini.Fakta di Den Haag ini bisa memberi gambaran nyata betapa pemilihan yang tidak serentak, sementara perolehan suara sudah mulai diumumkan, bisa mempengaruhi calon pemilih yang belum menunaikan hak pilihnya. Padahal ketidakserentakan pemungutan suara di Den Haag tersebut terjadi akibat perbedaan waktu. Lalu, bagaimana dengan pemungutan suara susulan di daerah di Indonesia, di mana calon pemilih (dengan berbagai macam latarbelakangnya) bisa menjadi mangsa politik uang, diintimidasi, dsb?
(es/)











































