"Dari hasil ekskavasi (penggalian) dengan membuat 6 kotak uji atau petak grit, situs candi itu diperkirakan hanya berukuran 6x6 meter," kata Kepala Pokja Pemugaran BP3 DIY, Budhi Sancoyo, di sela-sela proses penggalian, Rabu (23/12/2009).
Budhi menambahkan, berdasarkan hasil pemetaan oleh tim maupun dilihat dari empat antefiks (sudut candi), letak candi itu tidak persis menghadap ke timur, tapi agak serong. Candi itu juga memiliki koordinat serong 343 derajat dari arah utara magnit kompas.
Arca Ganesha yang ditemukan di lubang C1 menghadap ke barat, tepat berhadapan dengan tembok candi. Jika ditarik garis lurus diagonal dari antefiks, lingga terletak persis di tengah-tengah candi, yakni di lubang B1. Jarak antara lubang C1 dan B1 berdekatan.
"Bila dilihat dari permukaan tampak menyerong. Ini termasuk temuan baru. Candi Hindu yang sering ditemukan, arca Ganesha selalu berada di luar pagar sebagai penjaga pintu masuk namun berada di dalam. Penemuan ini akan menjadi kajian menarik para arkeolog," katanya.
Sementara Kepala Pokja Pemeliharaan, Andi Riana, mengatakan situs candi itu berada sekitar 3 meter dari permukaan tanah. Penemuan ini mirip dengan situs Candi Sambisari dan Candi Kedulan yang ditemukan tertimbun tanah vulkanik Gunung Merapi dengan kedalaman lebih dari 3 meter.
Di kawasan Ngaglik, Ngemplak, Kalasan, Cangkringan, Depok, Sleman memang banyak ditemukan situs candi. Candi-candi Hindu zaman Mataram kuno abad 9-10 Masehi di wilayah itu sebagian besar dibangun di tempat yang tinggi (bukit) atau berdekatan dengan sumber air. Tidak jauh sekitar 1 kilometer dari lokasi ini, warga Umbulmartani juga pernah menemukan arca di pinggir sungai.
"Temuan di UII ini merupakan candi untuk pemujaan bukan petirtaan," katanya.
Dia menambahkan arca Ganesha yang ditemukan kondisinya juga masih utuh dan baik. Belum ada bagian-bagian yang rusak. Sedang ornamen-ornamen di pagar candi berupa motif bunga dan sulur juga berbentuk pahatan yang rapi dari batu andesit.
"Bila semuanya utuh ini penemuan yang sangat bagus, meski sudah tertimbun pasir atau lahar Merapi yang masuh lewat sungai yang ada di dekatnya. Ini bisa menjadi laboratorium alam yang bagus," pungkas Riana.
(bgs/djo)











































