Kedua petugas haji bersepakat menikah setelah cinta di antara keduanya bersemi dalam 'cinta lokasi' (Cinlok) selama dua bulan bertugas. Kedua insan berbahagia ini dinikahkan secara resmi oleh KH Ahmad Jamhuri al Banjari di Masjidil Haram, Senin (21/12/2009) ba'da sholat isya waktu Arab Saudi.
Kedua sejoli ini adalah Suud Ibrahim bin Haji Rahim (25) berasal dari Bone, Sulawesi Selatan yang lahir dan besar di Maluku Utara ini yang bertugas di Tim Kesehatan Sektor 8 Bakhutmah dan Miftahul Janah (28), yang bertugas sebagai apoteker di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI). Pernikahan keduanya di Masjidil Haram disaksikan oleh Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang juga menjabat sebagai Konsul Teknis Urusan Haji Konjen RI Jeddah, Syairozi Dimyahti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah untuk pertama kalinya terjadi petugas haji Indonesia menikah di Makkah. Sejak tahun 1986 sampai sekarang belum pernah ada," kata Ketua PPIH Syairozi Dimyahti dalam sambutannya.
Sementara Kepala Sektor 8 Bakhutmah, Ahmad Danial Hafidz mengatakan, dalam enam tahun dirinya menjadi petugas haji belum pernah ada sesama petugas yang menikah. "Saya memang diberitahu Su'ud mau menikah di Masjidil Haram. Saya sarankan untuk meminta izin kepada Kepala Daker Makkah yang memiliki wilayah. Alhamdulillah, tadi sudah terlaksana di Masjidil Haram," jelasnya.
Demikian pula Kepala Daker Makkah Subakin Abdul Muthalib mengaku terkejut ada kengininan menikah di Masjidil Haram. Alasannya, sejak dirinya pertama bertugas dari tahun 1986 hingga 2009 ini belum pernah ada petugas menikah di Makkah. "Yang saya agak suprise lagi adalah ketika ini yang pertama kali saya bertugas memimpin Daker Makkah," imbuhnya.
Dalam acara itu, Suud Ibrahim mengenakan pakaian khas Arab Suadi, yaitu gamis dan sorban kotak-kotak hitam. Sementara Miftahul Jannah mengenakan pakain kerudung warna coklat. Keduanya langsung melakukan tukar cincin dan memberikan potongan kue kepada rekannya yang menjadi saksi.
"Awalnya saya itu terkesan dengan Miftahul, karena dia itu cerewet tapi ya pinter. Awalnya saat sama-sama pelatihan di Asrama Haji Pondok Gede, agak sebel juga tapi kok lama-lama berubah. Hingga pada suatu sore, saya memberanikan diri 'menembak' dia," tutur Suud kepada MCH di ruang kerja Wakil Ketua III Bidang Pelayanan Kesehatan PPIH Arab Saudi Dr Barita Sitompul di kantor Teknis Urusan Haji, Senin (21/12/2009) siang tadi.
Dalam kesempatan ba`da Ashar, saat break pelatihan di Asrama Haji, Suud mengajak Miftahul untuk jalan bareng menuju kantin. Saat itulah Suud dengan hati yang berdebar-debar tapi penuh keyakinan mengucapkan niatnya untuk serius berhubungan dengan Miftahul. "Bismillah, saya yakinkan diri saya dan saya ucapkan niat saya. Ya akhirnya keluarlah maksud hati saya," kata petugas bidang anastesi dan UGD Rumah Sakit Islam Ternate tersebut.
Lalu bagaimana reaksi Miftahul? "Saya kaget, tapi saya anggap dia cuma bercanda, cuma main-main saja," kata perempuan asal Samarinda Kaltim tersebut.
Miftahul pun tetap fokus dengan pekerjaannya sebagai petugas haji, dan karena kesibukannya dia seakan melupakan ajakan serius Suud. Namun Suud tidak menyerah begitu saja. Untuk membuktikan tidak main-main, Suud memesan cincin untuk melamar Miftahul, dan dia pun menghubungi Ibu Khosiyah (yang juga petugas Pelayanan Kesehatan di Sektor 8) yang sudah dianggap ibu angkatnya untuk beronsultasi terkait niatnya memperistri Miftahul.
Setelah mantap, pada 12 November, Suud mengajak Miftahul salat di Masjidilharam. 'November rain' sempat menunda keberangkatan mereka ke Masjidilharam. "Untungnya bakda Isa sekitar jam 20.00 WAS hujan berhenti, dan kami pun ke Masjidilharam yang kami lihat sudah basah karena hujan. Usai salat, saya katakan lagi niat luhur saya sambil menunjukkan cincin," katanya.
Melihat ajakan tulus Suud, Miftahul berpikir sejenak, lalu berdoa kepada Allah untuk meminta petunjuk bahwa inilah pilihan yang terbaik.
"Lalu saya telefon ayah saya di Tarakan, dan ayah saya mengatakan bahwa semua ini bukan kebetulan semata, namun suatu yang ditunjukkan Allah. Setelah berpikir lalu saya terima," katanya dengan tersenyum malu. Ayahnya pun setuju menunjuk K.H. Ahmad Jamhuri Jaharis sebagai wali nikah.
Suud dan Miftahul sebenarnya sempat ragu untuk menikah di Masjidlharam, terkait dengan beberapa selebriti Indonesia yang bercerai setelah menikah di sana. Namun segera diberi masukan dan nasehat dr Barita Sitompul supaya tidak mudah termakan isu tersebut.
"Saya katakan jangan mudah termakan paham seperti itu. Kebetulan saja mereka artis, mereka selalu diekspose dan mereka bercerai. Padahal banyak sekali orang biasa yang menikah di Masjidilharam dan Alhamdulillah tetap langgeng pernikahannya," kata Dr. Barita Sitompul saat menerima keduanya.
(zal/mok)











































