Korban nekad memanjat pohon kelapa yang ada di belakang rumahnya untuk menghindari kejaran warga yang marah akibat perbuatannya, nekad membunuh Marlis (35), dengan menggunakan sebilah parang, Kamis dinihari sekitar pukul 03.00 WIB. Kuat dugaan, tersangka melakukan perbuatan nekad ini akibat stres berat.
Upaya penyelamatan yang ditempuh tersangka manarik perhatian ratusan warga sekitar. Sesekali tersangka mengancam akan melompat jika warga masih berupaya menangkapnya. Meski begitu, keluarga tersangka tetap memujuk tersangka turun dari pohon kelapa dan menyerahkan diri.
Ibu kandung tersangka, Sakiem (80), sambil menangis menyuruh anaknya turun. Namun permintaan nenek jompo ini tidak mendapat respon dari tersangka yang duduk di antara pelepah pohon kelapa.
"Mudun-lah. Mbok gak marah kalau kue mudun," isak Sakiem dengan bahasa Jawa.
Petugas kepolisian yang telah berada di lokasi, memberikan pengeras suara kepada ibu kandung tersangka. Dengan pengeras suara, tersangka diharapkan bisa mendengar jelas permintaan ibunya. Namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Tersangka tetap duduk di antara pelepah pohon kelapa hingga Kamis siang pukul 13.00 WIB.
Warga kemudian menempuh upaya dengan memanjat pohon kelapa. Namun upaya ini malah membuat tersangka marah dan mengancam akan terjun bebas. Warga kemudian membatalkan niat untuk memaksa tersangka turun.
Kakak kandung tersangka, Sutini mengatakan, kondisi kejiawaan tersangka terlihat terganggu sejak dua bulan terakhir.
"Tidak ada pertengkaran suami-isteri. Tapi Kirno sering melamun dan bicara sendiri," kata Sutini.
(rul/djo)











































