"Tergantung siapa yang melihat, untuk perspektif Indonesia memang kurang tepat. Tapi untuk hubungan kedua negara tidak ada masalah," ujar pengamat politik-ekonomi Amerika dari UI, Bambang Nuroso, saat dihubungi, Rabu (16/12/2009).
Menurut Bambang, jika dilihat dari perspektif internasional, kerangka patung Obama tersebut tidak ada masalah. Karena di negara lain juga banyak yang mendirikan patung-patung tokoh internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, jika dilihat dari perspektif Indonesia, pendirian patung tokoh internasional tersebut masih sangat sensitif. Masyarakat belum paham betul dengan masalah itu, sehingga munculnya pro-kontra menjadi hal biasa.
"Di Indonesia masalah patung sangat sensitif, kalau di luar negeri patungisasi sudah biasa. Di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya muslim, budaya patung kurang mengena," jelas dia.
Pendirian patung tersebut akan dianggap sebagai penghargaan bahwa ada anak bangsa dari Amerika Serikat yang pernah tinggal di Indonesia.
Sementara mengenai tokoh Obama yang dianggap tidak terlalu berjasa bagi Indonesia, Bambang berpendapat, Obama merupakan tokoh yang telah melegenda di dunia. Di Amerika belum ada sejarah presiden kulit hitam, sehingga itu melegenda di dunia, tidak hanya di Indonesia saja, tapi juga di negara lain. Obama adalah tokoh sejuk yang memiliki karakter berbeda dengan tokoh lain.
Dengan demikian, pendirian patung tokoh internasional seperti Obama di Indonesia dinilainya layak-layak saja. "Layak. Ini nilai bagi dunia, bahwa perbedaan etnis tidak lagi menjadi sorotan utama," kata dia.
Namun, untuk penempatannya Bambang berpendapat, memang lebih bagus bila dipindahkan ke tempat lain yang lebih tepat. Karena di Taman Menteng yang merupakan ruang publik, belum ada tokoh dari Indonesia yang ditempatkan di situ.
"Harus begitu, lebih normatif kalau ada di lingkungan SD tempat Obama sekolah dulu. Lebih baik lagi ditempatkan di halaman sekolah mereka," cetusnya.
(nvc/nrl)










































