Hal ini disampaikan mantan Presiden AS Bill Clinton yang menjadi Utusan Khusus PBB untuk Pembangunan Pasca Tsunami. Seperti dilansir Reuters, Selasa (15/12/2009), tsunami 2004 menewaskan sekitar 226.000 orang di Indonesia, India, Thailand, Sri Langka dan Maladewa.
Menurut Clinton, masyarakat kembali membangun setelah diporak-porandakan tsunami. Namun, kondisinya memang tidak sama apalagi di daerah konflik seperti Aceh dan Sri Langka. Korban konflik terhambat menerima bantuan tsunami.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Clinton membandingkan pemulihan tsunami di Aceh yang merupakan daerah konflik GAM serta di Sri Langka yang merupakan daerah konflik Macan Tamil. Suami Menlu AS Hillary Clinton ini memuji penanganan tsunami di Aceh.
Tsunami di Aceh membuka pintu perdamaian pemerintah RI dan GAM. Namun konflik Macan Tamil dan pemerintah Sri Langka tetap berlanjut dan memperburuk kondisi korban Tsunami. Konflik di Sri Langka baru berhenti Mei 2009.
"Satu-satunya cara untuk pulih adalah kerja sama dan mereka di Sri Langka tidak berbuat cukup banyak," kata Clinton.
Setelah 5 tahun, lanjut Clinton, ribuan rumah kembali dibangun. Ratusan ribu hektar mangrove ditanam di Indonesia, Sri Langka dan Thailand untuk menahan ombak tsunami.
"Mereka telah belajar untuk mencegah dan merespons bencana dan mengorganisir diri dalam cara yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya," pungkas Clinton.
(fay/nrl)











































