"Bangsa ini lebih melihat segala sesuatu kepada materialisme. Sikap ini (pendirian patung) cenderung tidak berdasar dalam arti tidak memiliki pijakan," ujar pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali, kepada detikcom, Senin (14/12/2009).
Menurut Asep, penggagas patung Obama di Taman Menteng lebih melihat sosok Obama saat ini yang menjabat presiden negara adikuasa. Pendirian patung Obama ini tidak lebih dari sekadar upaya mencari muka yang dilakukan sejumlah orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena Obama presiden AS jadi kita cari muka, seolah kita menunggu dan berharap respons Obama. Jadi ada pamrih di balik itu," pendapat anggota Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia tersebut.
Asep mengatakan, sah-sah saja apabila ada warga yang menuntut agar pemerintah merobohkan patung Obama tersebut sebagai wujud rasa nasionalisme.
"Sah saja masyarakat minta dihancurkan untuk kemudian dibangun patung pahlawan nasional, itu kan sebagai wujud nasionalisme. Silakan pemerintah ikuti masyarakat atau buat kebijakan lain untuk meredam gejolak itu," ujar Asep.
Sebelumnya, penggagas patung Obama dari Yayasan Friends of Obama, Ron Muller, meminta masyarakat melihat sisi positif dari pembangunan patung tersebut. Jika ada pihak yang menanyakan apa jasa Obama untuk Indonesia, Muller mengatakan, "Obama membuat image yang sangat bagus untuk Indonesia. Dalam berbagai kesempatan dia bilang, "saya sekolah di Indonesia, saya makan nasi goreng, makan petai, saya cinta Indonesia."
(ddt/nrl)











































