"Tidak ada manipulasi. Pengertian manipulasi terlalu ektrim," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar kepada wartawan di ruangannya, Jl Sudirman, Jaksel, Jumat (11/12/2009).
Menurut Boy, kondisi jenazah saat itu memang tidak wajar. Alasannya, karena telah mendapatkan perawatan dari tim medis RS Mayapada dan RSPAD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama juga diutarakan terkait besarnya diameter peluru yang bersarang di kepala Nasrudin. Polisi membantah meminta Mun'im untuk mencatat lubang peluru di kepala Nasrudin menjadi 4 milimeter.
"Bukan untuk menghapus. Sebab itu Dokter Mun'im bersikukuh bahwa itu merupakan temuan yang merupakan hasil uji forensiknya," sangkalnya.
Soal serpihan peluru yang rusak, Boy berdalih hal itu dikarenakan sebelum mengenai kepala Nasrudin, peluru terlebih dahulu mengenai kaca.
Mun'im, Kamis (10/12/2009) kemarin bersaksi di persidangan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam kesaksiannya, Mun'im mengemukakan mayat Nasrudin yang divisumnya sudah dimanipulasi oleh dokter lain.
(mei/iy)











































