Komentar SBY yang terkesan 'mendahului takdir' ini dianggap sebagai bentuk paranoid politik, ketakutan-ketakutan yang sebenarnya tidak diperlukan.
"Bisa saja disebut paranoid politik," kata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsudin Haris kepada detikcom, Sabtu (5/12/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun komentar SBY ini malah justru dianggap kontraproduktif. Tidak layak ketakutan-ketakutan akan adanya kepentingan lain di luar kepentingan pemberantasan korupsi diucapkan. Apalagi oleh seorang kepala negara.
"Tidak etis bagi Presiden menuduh ada motif politik," imbuh Syamsudin.
Informasi-informasi 'mendahului takdir' sebelumnya juga disampaikan Presiden beberapa bulan lalu, terkait akan adanya ancaman pembunuhan terhadap dirinya oleh para teroris. Bahkan waktu itu Presiden mengatakan teroris hendak meledakkan kediaman Pribadinya di Cikeas, Bogor.
Meski 100 persen informasi ini belum benar, namun memang ditemukan ratusan kilogram bahan pembuat bom di Bekasi, tak jauh dari kediaman SBY di Puri Cikeas.
Apakah itu sebenarnya akan diledakkan di kediaman SBY? Bisa jadi. Namun banyak pihak yang menyayangkan informasi-informasi seperti ini dikeluarkan di hadapan publik. Publik justru malah dibuat was-was.
Saat berita SBY dan kediamannya menjadi target teroris, warga kala itu banyak yang ketakutan. Mereka was-was kompleks tempat tinggal mereka benar-benar akan menjadi sasaran teroris.
"Kita takut di sini," ujar Encih, pedagang kelontong yang setiap hari menjual dagangannya di depan gerbang Puri Cikeas, Bogor, Agustus 2009 lalu.
Encih tentunya bukan satu-satunya warga yang takut akan ancaman ini. Namun warga lain tentunya banyak juga yang merasakan hal yang sama dengan wanita paruh baya tersebut.
"Presiden seharusnya menghindari pernyataan-pernyataan seperti itu," pungkas Syamsudin.
(anw/mpr)











































