Penyandang Cacat Internasional yang digelar di kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (3/12/2009), Boediono tiba-tiba mengenang ayahnya, yang juga penyandang cacat.
"Mungkin tadi saudara sering melihat saya menyentuh mata saya. Saya tersentuh, karna hal ini mengingatkan pada kehidupan saya sendiri. jaranng saya sampaikan di publik. Tapi saya itu dari keluarga penyandang cacat," ujar Boediono yang tampil mengenakan batik coklat.
Mantan Gubernur BI ini lalu berkisah bahwa ayahnya mendapatkan musibah saat masih di usia tergolong produktif, meski ia tak menyebut usia persisnya. "Ayah saya mendapatkan musibah, kehilangan penglihatan. Pada usia puncak-puncaknya, sampai meninggal beberapa tahun kemudian," tutur Boediono.
Meski dibesarkan di keluarga yang cacat, Boediono pun merasa bersyukur karena ayahnya membesarkan dengan penuh perjuangan.
"Kami ini keluarga biasa. Tapi beliau (ayah) tidak sampai melihat putranya jadi wakil presiden," ujarnya dengan suara sendu dan bergetar.
Air mata Boediono pun nampak menetes di pipinya. Ia lalu terlihat mengusap air mata yang menetes di pipinya dengan tangannya. Hanya berselang sebentar, Boediono lalu mengambil sapu tangan di balik saku belakangnya, lalu tangan kanannya kembali mengusap air mata di pipinya.
"Saudara sekalian saya mohon maaf, karena saya sedikit emosional, tapi mendengar saya merasa tersentuh sekali dengan Hari Penyandang Cacat," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Boediono meminta kepada semua pihak untuk membantu penyandang cacat. Juga memerintahkan agar instansi terkait menyediakan fasilitas untuk penyandang cacat. (gun/anw)











































