"Jika kurang, rumah bisa ditimpuk batu," ujar Feri Yanto (32), warga penikmat Moke, saat berbincang santai, di Ende, NTT, Selasa malam (1/12/2009).
Menurut Feri, moke sudah menjadi tradisi setiap kali ada pesta digelar. Menu wajib ini menandakan kalau tuan rumah siap menjamu para tamu undangan dengan suguhan yang memuaskan.
"Biasanya moke disuguhkan dengan daging," kata Feri.
Pesta dengan ditemani moke dengan diiringi musik akan berlangsung sampai matahari terbit. Para tamu tidak akan diperbolehkan pulang kalau moke belum habis. "Kalau mau pulang diam-diam," katanya.
Biasanya tuan rumah menyediakan 100 liter moke untuk para tamu undangan. Moke diminum secara bersama-sama dalam satu meja, juga dengan satu gelas yang sama. Penuang moke juga tidak boleh berganti-ganti harus tetap satu orang dari awal sampai akhir.
"Biar moke dapat dinikmati secara merata," ungkapnya.
Kalau sudah begitu lanjutnya para tamu yang pulang akan senang karena merasa dihargai datang sebagai undangan ke sebuah pesta. (did/lrn)











































