Ahmad mengalami kecelakaan motor sekitar 2003 sehingga kaki sebelah kanannya tidak berfungsi. Lalu keluarga membawa Ahmad mendatangi Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof Dr Soeharso, Solo, Jateng, agar kaki kanannya berfungsi lagi.
"Setelah memakai kaki palsu, saya menjadi percaya diri," ujar Ahmad dalam perbicangannya dengan detikcom, di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof Dr Soeharso, Solo, Jateng, Selasa (1/12/2009).
Menurut Ahmad, sebelum menggunakan kaki palsu, dirinya kurang percaya diri dalam bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Namun setelah menggunakan kaki palsu itu, dia tidak ragu lagi menyongsong masa depan.
Staf urusan rumah tangga BBRSBD Prof Dr Soeharso, Solo, Jateng, Sudiarto mengatakan, panti itu berdiri pada 1952. Panti rehabilitasi ini juga membekali anak-anak yang mengalami cacat tubuh dengan pendidikan dan keterampilan.
Keterampilan yang didapat para siswa dan siswi di panti seperti fotografi, komputer, mekanik, dan elektronik. Saat ini jumlah siswa-siswa di tempat itu berjumlah hampir 300 anak dan mereka dibebaskan dari biaya.
Panti rehabilitasi itu, lanjut Sudiarto, juga memproduksi sendiri alat anggota tubuh palsu yakni protase dan ortose. Bahkan panti juga menjualnya jika ada yang memesan.
Harga alat bantu tubuh tiruan itu bervariasi dalam kisaran 3-8 juta. Tergantung bahan pembuatnya yakni aluminium dan fiber. Untuk bahan fiber harganya sekitar Rp 8 juta.
Sementara itu, Mensos Salim Segaf Al Jufry saat meninjau produksi dan sekolah di panti rehabilitasi itu mengaku senang. Bahkan dia menyempatkan menulis pesan dalam sehelai kertas dan membubuhkan tandatangan di kertas itu.
Isi pesan Mensos itu yakni:
'Saya sangat berbahagia melihat siswa-siswi Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof Dr Soeharso, Solo, Jateng, ini tersenyum. Mudah-mudahan masa depan yang gemilang menanti mereka'.
(nik/iy)











































