Antrean panjang sambil berdesak-desakan yang dilakukan sejak subuh hari itu tampak saat pembagian daging kurban di Masjid Istiqlal Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu (27/11/2009) pagi ini.
Beberapa warga menyalahkan sistem pembagian kupon yang dirasakan tidak adil. Neni (40) warga Kramat Pulo, Senen, mempertanyakan sistem pembagian daging kurban yang dilakukan oleh panitia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Neni menyarankan harusnya, tidak perlu ada antrean penerima daging kurban jika panitia mempunyai data lengkap bagi penerima daging kurban. "Tinggal dibawa saja ke RT atau kampung sekitar, nanti biar dibagi sama warga dan tidak perlu antri panjang," saran Neni.
Namun, lain halnya bagi Sri Rejeki (35) yang rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan sekilo daging. Baginya, yang datang tercepat dapat membawa pulang daging kurban.
"Saya datang pukul 04.00 Subuh tadi. Intinya Siapa cepat dia yang dapat," tuturnya.
Lain di Masjid Istiqlal lain pula dengan sistem pembagian daging kurban yang dilakukan oleh Badan Musyawarh Betawi (Bamus). Bamus menggunakan jaringan kelompoknya yang ada di seluruh wilayah jakarta untuk berkordinasi dengan Ketua RT dalam pembagian daging kurban.
"Kita menggunakan jaringan kita di seluruh wilayah dan bekerjasama dengan RT dalam pembagaian daging kurban. Nantinya warga bisa mengambil daging kurban di daerahnya sendiri," kata Ketua Bamus Nachrowi Ramli saat pemotongan daging kurban di Jl Suryapronoto, Jakarta Pusat.
Saat penyembelihan hewan kurban di markas Bamus itu, memang tidak ada antrean warga. Hanya ada petugas dan anak-anak kecil yang menonton penyembelihan. Petugas ini yang bekerja memotong memasukkan daging ke kantong yang telah disediakan dan akan diantar ke berbagai wilayah DKI Jakarta.
Jadi, daging hewan kurban sebaiknya diantre atau diantar? (fiq/nwk)











































