Niatan Umar untuk berkurban kambing, malah berkurban nyawa. "Kemarin memang dia terus-menerus tanya harga kambing, berniat untuk kurban. Tapi kambingnya habis. Tapi eh, malah jadi korban benaran," kata Armadi mengenang anaknya.
Para kerabat, sanak famili dan sahabat terus berdatangan melayat jenazah untuk terakhir kalinya, sebelum dimakamkan di TPU Umpi Manis, Kampung Pengasinan, Jl Bintara VIII, Bekasi Barat, Bekasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Armadi mengatakan, Umar adalah anak yang baik dan periang. Sebagai karyawan yang berpenghasilan lumayan, tak jarang Umar membagikan separuh rezekinya kepada adik, keluarga dan teman-temannya.
"Sisanya Rp 500 ribu suka dia tabung," ujar Armadi.
Uang hasil kerja di sebuah pabrik ban di Cikarang, Bekasi, dia kumpulkan untuk modal buka usaha ikan hias. Kolam kotak-kotak berukuran 2,5 x 2,5 meter berisi berbagai ikan cupang dan ikan hias di belakang rumahnya, menjadi 'warisan' terakhir Umar.
"Usahanya mau terus dilanjutkan," kata pria yang sudah beruban ini.
Sempat Dilarang
Setiap pagi, saat libur kerja, Umar selalu menyempatkan untuk mengambil pakan ikan di BKT. Namun, pagi itu, Armadi sempat melarangnya untuk tidak pergi.
"Saya sempat melarang, tapi dia tetap pergi," katanya.
Umar pun akhirnya pergi sendiri. Setengah jam kemudian, adiknya, Muhamad Nur menyusul Umar. Nur sempat bertemu dengan kakaknya.
3 liter kutu air (pakan ikan) sudah didapat Umar saat itu. Namun, saat hendak pulang, kakinya terpeleset di atas gunungan tanah bekas galian BKT. Umar pun tercebur ke dalam saluran yang digenangi air itu.
Air dalam saluran sedalam 5 meter itu menenggelamkannya. Umar berusaha untuk keluar dari air tersebut, namun tanah lumpur seolah menyeretnya masuk.
"Tangannya sempat melambai, mencoba menggapai tanah di atas, namun dia tidak bisa keluar," kenang Nur.
(mei/lrn)











































