"Kami berkomunikasi dengan para pengawal. Dengan kejadian itu, otomatis situasi di Jakarta sangat rawan. Untuk itu kami meningkatkan pengamanan," kata mantan ajudan Antasari, Imam Syafei, saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis (26/11/2009).
Menurut Imam, dia dan para pengawal Antasari saat itu tidak melihat ada keterkaitan antara pembunuhan Nasrudin dengan diperketatnya pengamanan pada Antasari.
"Ya, secara umum saja kita anggap terjadi kerawanan di Jakarta. Makanya kita tingkatkan kewaspadaan," jelas anggota Polri tersebut.
Namun, Imam, yang diperbantukan ke KPK sejak Januari 2008 itu, mengaku kaget setelah tahu ternyata korban penembakan adalah pria yang pernah menemui Antasari di KPK. Seingat dia, Nasrudin menemui bosnya itu antara 2-3 kali pada 2008.
"Setelah saya lihat di koran, kok kayaknya ini yang pernah bertamu ke KPK," kata Imam.
Imam mengaku melihat langsung Nasrudin berkunjung ke ruangan Antasari. Pertemuan dua pihak itu biasanya berlangsung antara 15-20 menit.
"Bagaimana wajah almarhum ketika masuk menemui terdakwa? Waktu pulang apakah almarhum tampak emosi" tanya pengacara Antasari, Juniver Girsang.
"Ya, biasa-biasa saja. Tidak emosi," jawab pria berkemeja batik tersebut.
Mantan ajudan Antasari lainnya, Fajar Hari Kuncoro juga mengaku sama. Dia tidak melihat tanda-tanda yang mencurigakan dari wajah Nasrudin baik sebelum maupun setelah bertemu Antasari.
"Apakah Saudara tahu dalam rangka apa Nasrudin menemui terdakwa?" kata pengacara Antasari, Ari Yusuf Amir.
"Saya nggak tahu. Di buku agenda juga tidak ditulis untuk keperluan apa. Hanya ditulis jam sekian Pak Antasari ketemu Pak Nasrudin misalnya. Tapi tidak tahu untuk apa," kata Fajar yang bersaksi lebih awal.
(irw/nik)











































