Di depan Kedubes Filipina, Jl Imam Bonjol, Jakpus, Kamis (26/11/2009), para jurnalis menabur bunga tepat di depan lambang pemerintah Filipina. Beberapa membawa poster bertulis 'Stop Killing Journalist' dan 'No Impunity for Journalists Killing'.
"Ini adalah pembantaian jurnalis terbesar sepanjang sejarah," kata koordinator aksi Margiyono dalam orasinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atmakusumah mengatakan, hal ini seharusnya menjadi momentum bagi Filipina untuk mengungkap pembantaian terhadap wartawan yang pernah terjadi di negeri yang dipimpin Presiden Arroyo itu.
"Pembunuhan ini terbanyak di Filipina sejak 2 dasawarsa terakhir yang menewaskan 60 wartawan," kata Atmakusumah.
International Federation of Journalists (IFJ) dan Reporter Sans Frontieres (RSF) mencatat, pembantaian tersebut merupakan yang terburuk sepanjang sejarah. Tak pernah ada sebelumnya 12 jurnalis yang sedang meliput dibantai sekaligus.
Dalam aksi damai itu, Romeo Garcia mengucapkan terima kasih kepada jurnalis di Indonesia atas solidaritas yang dilakukan.
"Semoga korban mendapat keadilan," cetus fotografer AFP yang sedang bertugas di Indonesia itu.
Penduduk sipil dan jurnalis dibantai oleh 100-an orang bersenjata saat mengantar iring-iringan massa yang mengantar pendaftaran salah satu bakal calon gubernur Manguindanao pada pemilihan gubernur mendatang. Sampai saat ini pemerintah Filipina belum mengumumkan siapa yang bertanggung jawab dalam kejahatan kemanusiaan itu.
(lrn/nrl)











































