Kondisi tersebut terjadi karena keempat aktivis tersebut tidak memiliki perbekalan makan dan minum. Semua bekal mereka dibawa turun oleh polisi pada Rabu (25/11/2009) sore.
Ratusan warga setempat yang berada di sekitar lokasi, bertepuk tangan ketika para aktivis lingkungan itu sampai di bawah sekitar pukul 10.00 WIB. Para karyawan PT IKPP juga ikut menonton pemandangan tersebut.
"Empat rekan kita itu terpaksa turun karena perbekalan mereka sudah diturunkan polisi sejak kemarin siang. Rekan kami tidak makan dan minum," kata juru bicara Greenpeace, Zamzami.
Tak lama kemudian, sambung Zamzami, keempatnya langsung diamankan oleh polisi. Para petugas juga melarang sejumlah warga yang hendak memberikan air dan makanan kepada keempatnya.
Dari empat aktivis itu, 3 di antaranya warga negara asing. Khusus warga negara asing, mereka langsung diboyong ke Mapolda Riau, sekitar 2 jam dari pelabuhan IKPP itu. "Yang WNI wanita dan dibawa ke Mapolsek Perawang," kata Zamzami.
Sebelumnya Greenpeace juga melakukan aksi yang sama di konsesi PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Para pencinta lingkungan ini, menilai PT RAPP dan IKPP telah menghancurkan kawasan hutan alam di Riau.
Sejak berdiri di tahun 1980-an, sampai saat ini pabrik kertas itu masih memasok kayu alam. Ini yang membuat gerah para aktivis internasional. Sebagai bentuk protes atas penggunaan kayu alam itu, mereka memblokir pelabuhan peti kemas IKPP dengan cara menggantung di crane.
(cha/djo)










































