"Saya jamin dalam 100 hari berhasil, kemudian mengikuti arus waktu semakin lama semakin kendor, dan kemudian beralih bentuk. Ini terjadi kalau akar permasalahannya tidak diselesaikan," kata mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Farouk Muhamad melalui telepon, Rabu (25/11/2009).
Farouk menjelaskan, kalau sekarang dipasang provost, mungkin para markus akan takut, tapi selanjutnya akan beralih bentuk dan modus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia membandingkan upaya perang terhadap markus ini sama dengan upaya memberantas judi dan pungli pada 2005. Saat itu tim dari PTIK justru kemudian menemukan sikap polisi yang slow down karena terjadi pemerosotan income dari satuan Polri dari Polda sampai Polsek.
"20-80 Persen penghasilan menurun yang membuat kerjanya menurun. Ini karena kita tidak pernah menyadari berpuluh tahun sebelumnya 'bensin' untuk menjalankan roda organisasi bersumber dari sumber tidak resmi. Begitu sumber ditutup, sumber berkurang," terangnya.
Yang perlu dicatat, kalau dipelajari, apakah betul yang disebut markus ini sifatnya perorangan atau justru memberi sumbangan bagi satu kesatuan.
"Ini pertanyaan yang harus dijawab, sebelum terapi harus diagnosis. Untuk itu perlu ada Komisi Negara yang terdiri dari ahli hukum, DPR, pebisnis yang memberikan rekomendasi untuk institusi hukum," tutupnya.
(ndr/iy)











































