Dubes Olsa: Ceko Bangsa Toleran, Tapi Ambivalen

Laporan dari Praha

Dubes Olsa: Ceko Bangsa Toleran, Tapi Ambivalen

- detikNews
Selasa, 24 Nov 2009 21:05 WIB
Dubes Olsa: Ceko Bangsa Toleran, Tapi Ambivalen
Praha - Faktor sejarah membentuk bangsa Ceko menjadi bangsa cinta damai, namun terkadang juga terkesan ambivalen. Misalnya, sikap mereka terhadap golongan minoritas.

Hal itu disampaikan Dubes Jaroslav Olsa dalam Diplomatic Lecture Series (DLS) di KBRI Praha (23/11/2009), yang dihadiri sejumlah Duta Besar negara sahabat, para diplomat dari berbagai kedutaan dan masyarakat Indonesia.

Menyampaikan topik kuliah 'Budaya dan Masyarakat Ceko', Dubes Olsa menjelaskan tentang pola pikir masyarakat Ceko dari berbagai sisi, seperti sejarah, ekonomi, letak geografis dan budaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Olsa, faktor sejarah merupakan unsur dominan, yang membentuk bangsa Ceko menjadi bangsa cinta damai. Letak geografis Ceko di tengah-tengah Eropa telah menjadikan Ceko bangsa toleran, karena terbiasa menghadapi berbagai perbedaan budaya dari bangsa-bangsa di sekitarnya.

Meskipun demikian, bangsa Ceko juga terkadang terkesan ambivalen, misalnya dalam bersikap terhadap kelompol minoritas kaum Gipsi.

"Ini masalah penting yang telah berlangsung lama dan tidak akan dapat segera terselesaikan tanpa campur tangan dari pemerintah," papar Olsa, yang menurut Counsellor Pensosbudpar Azis Nurwahyudi pernah menjadi Dubes Ceko di Jakarta dan pernah menerima penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI (1999).

Sementara itu dari sisi kebudayaan, bangsa Ceko mempunyai tokoh-tokoh yang patut dibanggakan, antara lain tokoh perfilman Jiri Menzel yang pernah meraih Oscar, juga pengarang Frans Kafka dan Milan Kundera.

Olsa bahkan menegaskan sumbangsih bangsa Ceko untuk kosakata dunia yakni bahwa kata 'robot' sebenarnya dibuat oleh pengarang terkenal Ceko, Karel Capek.

Dijelaskan bahwa faktor sejarah dan budaya ini juga mempengaruhi pola pikir bangsa Ceko terhadap masalah agama. Banyak warga Ceko tidak beragama, bukan saja karena faktor pemerintah komunis yang selama lebih dari 40 tahun menguasai negara Ceko, tetapi lebih karena perkembangan sejarah dan budaya, di mana agama merupakan sesuatu yang menjadi hak paling privasi bagi setiap individu.

Pada sesi diskusi, Dubes Salim Said menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan di Indonesia menyangkut agama dan politik, di mana partai politik yang berlandaskan agama tidak memenangkan pemilu meskipun mayoritas penduduk beragama Islam.

Sebaliknya juga marak wanita muslim Indonesia yang mengenakan jilbab akhir-akhir ini, terutama mereka yang telah menunaikan ibadah haji.

Diplomatic Lecture Seriesย secara teratur diselenggarakan di KBRI Praha dan ini merupakan seri keenam atau seri terakhir untuk tahun ini.

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads