Tips Memilih Hewan Kurban yang Sehat

Tips Memilih Hewan Kurban yang Sehat

- detikNews
Selasa, 24 Nov 2009 13:27 WIB
Tips Memilih Hewan Kurban yang Sehat
Jakarta - Hari Raya Idul Adha tinggal hitungan hari. Ratusan kambing dan sapi memasuki Jakarta dari berbagai daerah. Meski para penjual sudah mengantongi sertifikat dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan (P2K) Pemprov DKI, tak ada salahnya mengetahui ciri-ciri kambing sehat.

Konsumen tak hanya perlu menanyakan sertifikat sehat dari Dinas tapi konsumen juga perlu mengetahui ciri-ciri kambing yang trengginas dan bugar di luar standar kesehatan medis.

"Kalau sertifikat kesehatan dari dinas kami punya," ujar penjual kambing Bejo (60) asal Wonosobo yang mangkal Jl Kemayoran Gempol, Kel Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat kepada detikcom, Selasa (24/11/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kakek yang telah puluhan tahun menjual kambing ini memberikan tips-tips memilih kambing yang masuk kriteria tersebut. Yaitu mata tidak belekan (keluar cairan) dan sinar matanya cemerlang.Β  Dari segi postur harus trengginas, lincah dan tidak tiduran terus atau meringkuk.

"Khusus sapi, bulu jangan terlalu njabrik (berdiri), itu sakit. Tapi kalau kambing tidak terlalu kelihatan," beber kakek yang mempunyai 5 karyawan.

Untuk kambing-kambing miliknya, diambil dari Wonosobo, Magelang dan Temanggung. Di tempat asalnya, dia membeli senilai Rp 900 ribu - Rp 1,2 juta per ekor. Kemudian, dia menjual di Kemayoran menjadi Rp 1,5 juta - Rp 2juta per ekor.

Dalam satu kali musim Lebaran Idul Adha, dia bisa menjual ratusan kambing.Β Β 

"Selain untuk keuntungan juga biaya perawatan, transportasi, biaya hidup di Jakarta dan sebagainya," pungkasnya.

2 Pekan Segubuk dengan Hewan

Sementara penjual hewan kurban lain Solehudin (37) bersama belasan pedagang hewan kurban lain mulai menempati H-14 dari Idul Adha di kawasan Kemayoran itu.

"Ini hari ke 12 saya di sini, menjaga kambing kurban, " ucap Solehudin di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (24/11/2009).

Pada hari ini, mereka mulai membangun gubuk dan kandang sederhana buat ternak dagangan kurban. Awalnya, jumlah kambing dan sapi masih sedikit. Lalu makin meningkat seiring waktu mendekati Hari Raya kurban.

"Ya bikin gubuk di sini. Tinggal di sini nungguin kambing," imbuhnya sembari menunjuk masjid di dekat lokasi untuk kegiatan Mandi Cuci Kakus (MCK).

Di gubuk sederhana, persis di samping kandang kambing, Solehudin dan pedagang itu membangun 'pemukiman' sederhana. Bilah bambu dibuat untuk menjepit tenda terpal penepis angin malam. Kompor gas satu tungku teronggok untuk membuat kopi hitam. Televisi ukuran 10 inchi diletakan di sudut gubuk guna menghapus suntuk bila tengah sepi pembeli.

"Udah kebal yang namanya masuk angin, Mas.. Bolak-balik dikerokin sama jamu," timpal Darman, pedagang kambing asal Wonogiri.

Bila malam takbir menggema, pertanda tugas nyaris paripurna. Mereka tinggal menunggu satu hari atau setelah sore Idul Adha selesai. Kemudian, mereka berbondong-bondong kembali ke daerah asal, di Indramayu, Kendal, Wonogiri hingga Sragen.

"Kalau enggak kejual ya dibawa balik lagi buat tahun depan," pungkas Solehudin.

(Ari/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads