Melongok ke atas KRI Diponegoro, sebuah helikopter jenis Bolcow NBO 105 bertengger di dek helipad. Selain itu KRI Diponegoro juga dibekali dengan sistem persenjataan yang mumpuni semisal terpedo mode II/MU 90 yang dilengkapi 2 peluncur terpedo tipe B515.
Meriam utama pun dipasang di depan anjungan kapal. Meriam jenis Oto-melara 76 mm buatan Italia. Kanon ringan dipasangkan di sayap kanan dan kiri dengan kekuatan tembakan 600 butir peluru kaliber 20 mm tiap menitnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini disampaikannya di atas Kapal KRI Diponegoro-365 saat bertolak dari dermaga Tanjung Priok, Jakarta Utara menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Minggu (22/11/2009).
Yang lebih menarik lagi, ketika detikcom melihat ke ruang kontrol anjungan, terdapat sekitar enam layar yang menggambarkan keadaan dalam dan luar kapal.
"Semuanya didekteksi pakai senor. Ditampilkan dalam layar komputer dan kalau ada sesuatu yang tidak normal maka akan menunjukkan daerah kerusakan dan akan bunyi alarm," kata pria asal Medan ini.
"Ini suatu pendekatan kapal generasi baru dimana semua sub sistem kapal, seperti navigasi, senjata, dan semua terintegrasi dengan baik," tambahnya.
Biasanya, kapal model lama menggunakan kemudi besar untuk menggerakkan kapal. Di kapal model SIGMA ini, kemudi kapal hanya berukuran Mouse kecil yang digerakkan lewat sentuhan jari.
"Juga menggunakan auto pilot. Radar juga dimiliki dengan jangkauan 200 km. yang paling canggih adalah semua integrated," katanya.
Selain itu, mode siluman bisa digunakan oleh kapal ini hingga tidak bisa terdeteksi oleh kapal-kapal yang berada di sekitarnya.
"Ada mode silent yang artinya kita tidak bisa dideteksi oleh kapal lain tapi kita bisa mendeteksi kapal mereka. Tinggal mengklik kapal yang ada di layar, maka akan ditampilkan data kapal yang dimaksud," jelasnya.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, KRI Diponegoro seberat 1700 ton, dengan panjang 90.71 meter dan lebar 13.02 meter. Kecepatan hingga mencapai 28 knot.
(fiq/mok)











































