Dalam siaran pers yang diterima, Minggu (22/11/2009) Hatta, berdasarkan analisis Indobarometer mendapat apresiasi positif 77,2 %, sedang Menko Polhukam Djoko Suyanto 71,7 %, dan Menko Kesra Agung Laksono 67,7 %.
Sedang untuk berita negatif Hatta mendapat angka 5,4 % dibanding Agung 5,9%, dan Djoko 6,5%. Analisi media ini dilakukan pada 6 media yakni Kompas, Seputar Indonesia, Republika, Jurnal Nasional, Media Indonesia, dan Rakyat Merdeka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam analisisnya yang dilakukan dari 26 Oktober-15 November 2009 itu, Qodari menjelaskan, surat kabar yang paling banyak menurunkan berita tentang Hatta Rajasa adalah Rakyat Merdeka 22,1%, Sindo 16,8%, dan Media Indonesia 18,8%.
"Tema terbesar yang diangkat, antara lain, ekonomi 14,1%, National Summit 12,8%, dan Saham PT Newmont NNT 9,4%," imbuhnya.
Sedang yang menurunkan artikel negatif adalah, Kompas 14,3%, Media Indonesia 3,6%, Republika 4,3% dan Rakyat Merdeka 9,1%. Adapun artikel negatif di Kompas mengenai program -program di National Summit.
Sedangkan sentimen negatif yang muncul di Republika adalah soal pembelian saham Newmont NNS dan di RM mengenai masalah gaji pejabat dan pemilihan ketua umum PAN.
"Riset media analisis ini, lanjut Qodari untuk memberi gambaran tentang respon publik terhadap tiga menteri yang diberi tugas untuk mengordinasi masing-masing menteri teknisnya yang terekam dalam pemberitaan media massa nasional," jelas Qodari.
Qodari juga menyampaikan alasan kemungkinan Hatta dinilai memiliki kecerdasan dalam mengemas isu-isu yang memiliki nilai berita tinggi. Terutama, melalui pernyataan pernyataannya yang bersifat gebrakan dan terobosan penting dalam menghadapi berbagai kebuntuan program.
"Secara umum publik juga menangkap kesan kuat bahwa Pak Hatta dengan para menteri di bawahnya lebih 'hidup' ketimbang menko lainnya dalam melakukan berbagai gebrakan dan terobosan. Sehingga, menteri perekonomian dinilai lebih kompak. Inilah antara lain salah satu kelebihan Pak Hatta yang memiliki kemampuan lobi dan koordinasi yang baik, disamping tentu saja pengalaman," klaim Qodari.
Sementara tentang metodologi riset yang digunakan dalam analisi media, Qodari menjelaskan, waktu pengumpulan data mulai 26 Oktober sampai 15 November 2009.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah mengumpulkan semua artikel surat kabar yang menyebut nama Hatta Rajasa, Agung Laksono dan Djoko Suyanto.
"Yakni semua tulisan yang ada di surat kabar. Sedangkan fokus analisis pada lima kategori, frekuensi artikel, penempatan artikel, tema artikel, sentimen artikel, dan narasumber artikel dan di-breakdown sesuai dengan kebutuhan," urainya.
(ndr/nal)











































